Jokbangka – #Terasi #Toboali #menjadi #salah #satu #produk #unggulan #khas #Provinsi #Kepulauan #Bangka #Belitung #yang #telah #dikenal #luas #karena cita rasanya yang khas, aroma kuat, dan kelezatan umami yang sulit ditemukan pada produk serupa dari daerah lain. Di balik popularitasnya, para perajin kini menghadapi tantangan besar berupa keterbatasan bahan baku udang rebon atau udang sungkur yang hanya tersedia pada musim tertentu.
Terasi atau belacan Bangka sejak lama menjadi oleh-oleh favorit wisatawan. Di antara berbagai daerah penghasil terasi, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, dikenal sebagai sentra penghasil terasi berkualitas tinggi.

Berdasarkan data Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bangka Selatan, terdapat sekitar 248 perajin terasi yang tersebar di sejumlah kawasan pesisir seperti Kampung Padang, Batu Perahu, dan Sukadamai.
Kualitas Terasi Dijaga dari Pemilihan Bahan Baku
Salah satu perajin terasi di Sukadamai, Maya (57), mengaku kualitas menjadi prioritas utama dalam setiap proses produksi.
Keunggulan Terasi Toboali terletak pada penggunaan 100 persen udang sungkur (udang rebon/Acetes sp.) tanpa campuran ikan ataupun jenis udang lainnya. Satu-satunya bahan tambahan yang digunakan hanyalah garam sehingga cita rasa asli tetap terjaga.
Setelah ditangkap nelayan, udang sungkur langsung dipisahkan dari hasil tangkapan lainnya, dicuci menggunakan air laut, kemudian dijemur hingga setengah kering.
Selanjutnya udang dicampur garam sesuai takaran dan difermentasi selama sekitar satu minggu sebelum kembali dijemur hingga benar-benar kering. Setelah itu, bahan ditumbuk dan dicetak menjadi terasi.
Dari sekitar 10 kilogram udang sungkur, hanya dihasilkan sekitar 3,5 kilogram terasi, sehingga tidak mengherankan apabila harga jualnya relatif tinggi.
Musim Udang Menentukan Produksi
Permasalahan utama yang dihadapi para perajin adalah terbatasnya ketersediaan udang sungkur.
Musim panen udang biasanya hanya berlangsung pada Mei hingga Agustus, sehingga produksi terasi pun mengikuti musim tersebut.
Saat musim panen tiba, Maya mampu mengolah hingga 800 kilogram udang sungkur menjadi terasi. Di luar musim, bahan baku menjadi sangat sulit diperoleh sehingga produksi menurun drastis.
Menurut Maya, menjaga kualitas jauh lebih penting dibandingkan meningkatkan jumlah produksi.
Ia memilih tetap mempertahankan resep tradisional tanpa mencampurkan bahan lain meski pasokan udang sedang terbatas.
Harga Terasi Bisa Mencapai Rp150 Ribu per Kilogram
Kelangkaan bahan baku juga berdampak pada harga jual.
Saat musim udang melimpah, harga terasi berkisar Rp40 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.
Namun ketika stok udang mulai menipis, harga dapat melonjak hingga Rp150 ribu per kilogram karena tingginya permintaan pasar dan terbatasnya pasokan.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, para perajin memproduksi terasi dalam jumlah besar selama musim panen agar memiliki stok yang cukup sepanjang tahun.
Terasi yang disimpan dengan baik, terutama di dalam lemari pendingin, dapat bertahan hingga satu tahun tanpa mengurangi kualitasnya.
Pemerintah Bantu Freezer untuk Menjaga Pasokan
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bangka Selatan, Deka Indra, mengatakan pemerintah daerah telah mengidentifikasi persoalan utama yang dihadapi perajin, yaitu keterbatasan bahan baku musiman.
Sebagai solusi, pemerintah memberikan bantuan mesin pembeku (freezer) kepada pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) pengolahan hasil laut.
Sejak 2023, sebanyak 43 pelaku IKM telah menerima bantuan freezer agar dapat menyimpan udang sungkur saat musim panen berlangsung.
Dengan penyimpanan yang baik, kualitas bahan baku diharapkan tetap terjaga sehingga produksi terasi dapat berlangsung lebih stabil sepanjang tahun.
Permintaan Terasi Toboali Terus Meningkat
Permintaan Terasi Toboali tidak hanya berasal dari Bangka Belitung.
Produk ini banyak digunakan oleh rumah makan yang menyajikan kuliner khas Bangka seperti lempah kuning.
Selain dipasarkan secara langsung, para perajin kini memanfaatkan pemasaran digital sehingga produk mereka mampu menjangkau berbagai daerah seperti Bengkulu, Batam, Bali, Jakarta hingga Jawa Timur.
Maya mengaku rata-rata mengirim sekitar 50 kilogram terasi setiap bulan ke luar Bangka Selatan, sementara permintaan dari konsumen lokal mencapai sekitar 20 kilogram per bulan.
Sertifikasi Menambah Nilai Jual
Selain menjaga kualitas bahan baku, para perajin juga meningkatkan daya saing melalui legalitas usaha.
Terasi produksi Maya telah memiliki izin edar dan sertifikasi halal, sehingga semakin dipercaya oleh konsumen di berbagai daerah.
Dengan mempertahankan kualitas tradisional sekaligus memanfaatkan teknologi pemasaran dan dukungan pemerintah, Terasi Toboali diharapkan tetap menjadi salah satu produk unggulan Bangka Belitung yang mampu bersaing di pasar nasional.
















