Jokbangka – Upaya #melestarikan #budaya #lokal di tengah #perkembangan #zaman terus dilakukan melalui #berbagai cara. Salah satunya dilakukan SD #Muhammadiyah #Mentok, #Kabupaten #BangkaBarat, #Provinsi #Kepulauan #BangkaBelitung, dengan melibatkan siswa, guru, dan orang tua dalam rangkaian #Festival #Kota #Seribu #Kue.
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang perlombaan untuk memeriahkan Hari Jadi ke-292 Kota Mentok, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi siswa untuk mengenal sejarah, seni, permainan tradisional, kuliner, hingga budaya Melayu Mentok.

Baca: Jejak Misterius Koordinator Lapangan Penyelundupan 8 Ton Timah di Beltim, Polisi Terus Memburu F
Festival yang mengusung tema “Mentok Untuk Semue” tersebut berlangsung pada 16-19 September 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu cara sekolah memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda sekaligus menggali berbagai potensi yang dimiliki para peserta didik.
Festival Kota Seribu Kue Jadi Ruang Belajar Budaya
Kepala SD Muhammadiyah Mentok, Sastriadi, mengatakan Festival Kota Seribu Kue merupakan kegiatan yang dirancang untuk menggali potensi siswa melalui berbagai perlombaan dan kegiatan seni.
Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari perayaan Hari Jadi ke-292 Kota Mentok.
Menurut Sastriadi, kegiatan Festival Kota Seribu Kue sudah menjadi agenda rutin sekolah sejak 2015. Setiap tahun, kegiatan tersebut terus dikembangkan melalui berbagai inovasi agar semakin menarik dan relevan bagi siswa.
Salah satu tujuan utama kegiatan adalah mengingatkan kembali identitas Mentok sebagai Kota Seribu Kue, sekaligus mengenalkan budaya Melayu kepada generasi muda agar tidak semakin terlupakan.
Dengan pendekatan melalui kegiatan yang menyenangkan, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan di dalam kelas, tetapi juga dapat mengenal budaya daerah melalui pengalaman secara langsung.
Beragam Perlombaan Kenalkan Sejarah dan Budaya Mentok
Festival tersebut dikemas dengan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan budaya dan kehidupan masyarakat Mentok.
Pada hari pertama, siswa mengikuti fashion show untuk kelas 1-3, lomba menggambar tempat bersejarah untuk siswa kelas 4-6, serta lomba menyanyi solo lagu Melayu.
Selanjutnya, hari kedua diisi dengan lomba Betason atau cerdas cermat bagi siswa kelas 4-6. Materi perlombaan antara lain pengetahuan umum mengenai Kota Mentok, membuat pantun, menebak nama kue tradisional, hingga balap estafet kerite sorong.
Baca: Gasak Kusen Pasar Modern Koba, Pria 27 Tahun Ditangkap Kurang dari 24 Jam, Ini Kronologinya
Tidak hanya siswa, para guru juga ikut ambil bagian dalam kegiatan Betason Guru. Tantangan yang diberikan antara lain menjawab soal, menebak lirik lagu, dan membuat pantun.
Pada hari ketiga, siswa kembali mengikuti perlombaan Cabut Belon atau permainan yang dikenal sebagai Gobak Sodor, serta lomba menyanyi solo lagu Melayu untuk kategori siswa kelas 4-6.
Berbagai perlombaan tersebut membuat kegiatan pelestarian budaya terasa lebih dekat dengan kehidupan anak-anak. Budaya tidak hanya diperkenalkan melalui teori, tetapi juga melalui permainan, seni, musik, makanan tradisional, dan kegiatan kreatif.
Orang Tua Ikut Terlibat dalam Festival
Hal menarik lainnya dalam kegiatan ini adalah keterlibatan aktif orang tua atau wali murid.
Pihak sekolah memberikan ruang bagi orang tua yang memiliki Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk berjualan di lingkungan sekolah selama festival berlangsung.
Kehadiran UMKM keluarga siswa tidak hanya menambah kemeriahan kegiatan, tetapi juga memberikan kesempatan kepada para orang tua untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk mereka.
Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Orang tua juga dapat mengambil peran dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bangka Barat, Sarbudiono, menilai festival tahunan tersebut juga menjadi sarana memperkuat komunikasi antara pihak sekolah dan orang tua.
Menurutnya, salah satu hal penting dari kegiatan tersebut adalah terbangunnya komunikasi dan koordinasi yang baik antara sekolah dengan keluarga siswa.
Orang Tua Kenalkan Kuliner Tradisional
Keterlibatan orang tua semakin terlihat dalam rangkaian kegiatan penutupan festival.
Paguyuban orang tua turut memeriahkan acara melalui lomba menghias tumpeng kue dengan mengenakan pakaian adat Melayu serta lomba memasak lempah kuning.
Kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan makanan khas daerah sekaligus mempererat hubungan antara orang tua, guru, dan siswa.
Di sisi lain, kegiatan memasak dan mengenalkan makanan tradisional juga dapat menjadi sarana untuk menjaga keberadaan kuliner lokal agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
Dengan demikian, pelestarian budaya tidak berhenti pada kesenian atau pakaian adat, tetapi juga mencakup makanan tradisional yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Mentok.
Siswa Belajar dari Sejarah, Seni hingga Permainan Tradisional
Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah Dinas Dikpora Bangka Barat, Siemens Siloys, memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang memberikan ruang kepada siswa untuk mengenal budaya dan sejarah daerah.
Menurutnya, kegiatan semacam ini dapat berjalan beriringan dengan proses pendidikan sekaligus penguatan karakter peserta didik.
Festival tersebut menjadi ruang belajar yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Siswa dapat mengenal daerahnya melalui sejarah, seni, permainan, kuliner, sekaligus belajar memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Dengan konsep tersebut, kegiatan sekolah tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Siswa juga mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, keberanian tampil, kemampuan bekerja sama, serta mengenal identitas daerahnya.
Festival Juga Menjadi Ajang Mencari Bakat Siswa
Selain sebagai kegiatan pelestarian budaya, Festival Kota Seribu Kue juga dimanfaatkan sekolah untuk melihat potensi dan bakat para siswa.
Berbagai perlombaan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam bidang seni, pengetahuan, kreativitas, olahraga tradisional, hingga kemampuan berbicara.
Pihak sekolah kemudian dapat mengidentifikasi potensi tersebut untuk dikembangkan lebih lanjut.
Cara ini membuat kegiatan festival memiliki manfaat ganda. Di satu sisi, siswa mendapatkan pengalaman mengenal budaya daerah, sementara di sisi lain sekolah memperoleh kesempatan untuk menemukan bakat-bakat yang mungkin belum terlihat dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.
Parade Hizbul Wathan dan Bersih Pantai
Rangkaian kegiatan juga tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah.
Pada bagian penutupan, terdapat Parade Hizbul Wathan di kawasan Pantai Baturakit yang dilanjutkan dengan kegiatan bersih-bersih pantai. Siswa juga mengikuti lomba yel-yel Hizbul Wathan.
Kegiatan tersebut memperluas makna festival. Anak-anak tidak hanya diajak mengenal budaya, tetapi juga diperkenalkan dengan pentingnya menjaga lingkungan.
Pembelajaran semacam ini membuat siswa dapat melihat bahwa budaya dan lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Budaya Lokal Dikenalkan Sejak Bangku Sekolah
Pelestarian budaya lokal menjadi semakin penting karena generasi muda tumbuh di tengah perkembangan teknologi dan informasi yang sangat cepat.
Sekolah dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk memperkenalkan kembali budaya daerah kepada anak-anak.
Melalui kegiatan seperti Festival Kota Seribu Kue, siswa dapat mengenal tradisi dan identitas daerah dengan cara yang lebih menyenangkan.
Mereka tidak hanya mengetahui nama makanan tradisional, permainan, lagu atau tempat bersejarah, tetapi juga dapat merasakan langsung bagaimana budaya tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Bagi Mentok, upaya tersebut sekaligus memperkuat identitas kota yang dikenal dengan kekayaan kuliner dan budaya Melayu.
Momentum Hari Jadi Mentok Tidak Sekadar Seremonial
Festival Kota Seribu Kue yang berlangsung pada 16-19 September 2026 akhirnya tidak hanya menjadi kegiatan untuk memeriahkan Hari Jadi ke-292 Kota Mentok.
Kegiatan tersebut dikembangkan menjadi ruang pertemuan antara pendidikan, budaya, keluarga, UMKM, lingkungan, dan masyarakat.
Siswa mendapatkan pengalaman belajar di luar pembelajaran rutin, guru terlibat dalam berbagai kegiatan, orang tua ikut berpartisipasi, sementara pelaku UMKM keluarga siswa memperoleh ruang untuk memperkenalkan produk mereka.
Melalui pola kegiatan tersebut, sekolah menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan melibatkan banyak pihak.
Menjaga Budaya dari Generasi ke Generasi
Baca: Pria Asal Sumsel Curi RX King Warga Pemali karena Tak Punya Motor, Aksinya Terbongkar Lewat CCTV
Festival Kota Seribu Kue di SD Muhammadiyah Mentok menjadi contoh bagaimana kegiatan sekolah dapat dikemas sebagai sarana pendidikan sekaligus pelestarian budaya.
Sejarah, lagu Melayu, pantun, permainan tradisional, pakaian adat, makanan khas, hingga kepedulian terhadap lingkungan dipertemukan dalam satu rangkaian kegiatan.
Harapannya, pengalaman tersebut dapat membuat siswa semakin mengenal daerah tempat mereka tumbuh dan memiliki kepedulian untuk menjaga warisan budaya lokal.
Dengan melibatkan siswa dan orang tua secara langsung, budaya Melayu Mentok tidak hanya dikenalkan sebagai materi pembelajaran, tetapi juga dihidupkan melalui pengalaman nyata di lingkungan sekolah dan masyarakat.
















