Jokbangka – #PulauBangka ternyata menyimpan jejak #kehidupan #manusia masa lalu yang jauh lebih #menarik dari yang selama ini diketahui. #Penelitian #arkeologi di #Desa #Gudang, #Kecamatan #Simpang Rimba, #Kabupaten #BangkaSelatan, #Kepulauan #BangkaBelitung, perlahan membuka tabir tentang kehidupan manusia pada masa lampau.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Bukit Batu Kepale, kawasan yang menyimpan goresan atau gambar cadas berwarna merah yang diperkirakan berusia sekitar 3.000 tahun.
Temuan tersebut menjadi penting karena gambar cadas di Bukit Batu Kepale disebut sebagai salah satu jejak gambar cadas prasejarah di Pulau Sumatra dan menjadi temuan penting dalam mengungkap perjalanan manusia masa lalu di kawasan Bangka Belitung.

Namun, cerita prasejarah di Desa Gudang ternyata tidak berhenti di Bukit Batu Kepale.
Penelitian lanjutan pada 25–27 Agustus 2026 yang dilakukan tim ilmuwan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama sejumlah akademisi menemukan indikasi aktivitas manusia masa lalu di kawasan Aik Sibut, kaki Bukit Nenek yang lokasinya tidak jauh dari Bukit Batu Kepale.
Baca: Pencuri Motor di Toboali Ditangkap Polres Bangka Selatan, Motor Rp5,8 Juta Digadai Rp200 Ribu
Temuan berupa fragmen gerabah dan tinggalan lainnya semakin memperkuat dugaan bahwa kawasan Desa Gudang memiliki potensi arkeologis yang lebih luas.
Gambar Cadas Bukit Batu Kepale Jadi Petunjuk Penting
Penemuan gambar cadas di Bukit Batu Kepale sebelumnya telah menarik perhatian para peneliti.
Goresan berwarna merah pada permukaan batu tersebut menjadi petunjuk penting mengenai keberadaan manusia pada masa prasejarah di Bangka Selatan.
Ahli arkeologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana, menyebut apabila temuan tersebut benar-benar dapat ditetapkan sebagai objek cagar budaya, usianya berpotensi lebih tua dibandingkan sejumlah temuan gambar cadas lain di Sumatra.
Keberadaan gambar cadas ini sekaligus memperlihatkan bahwa masyarakat masa lalu telah memiliki bentuk ekspresi visual yang dituangkan pada permukaan batu.
Bagi dunia arkeologi, gambar cadas bukan sekadar goresan di batu. Jejak tersebut dapat menjadi sumber informasi untuk memahami kehidupan, lingkungan, aktivitas, serta kebudayaan masyarakat pada masa lalu.
Penelitian BRIN Berlanjut ke Aik Sibut
Penelitian kemudian diperluas untuk mengetahui apakah jejak manusia masa lalu hanya terkonsentrasi di Bukit Batu Kepale atau tersebar di kawasan sekitarnya.
Dalam eksplorasi pada 25–27 Agustus 2026, tim peneliti menyusuri kawasan Aik Sibut di kaki Bukit Nenek.
Baca: ART di Toboali Diduga Kuras Tabungan Majikan Rp47,1 Juta Lewat ATM, Polisi Bertindak
Tim penelitian melibatkan sejumlah ilmuwan dari BRIN dan akademisi dari beberapa perguruan tinggi. Di antaranya Adhi Agus Oktaviana, S.Hum., Ph.D., Sigit Eko Prasetyo, S.Hum., M.Hum., Dr. Budi Agung Sudarmanto, S.S., M.Pd., Prof. Dr. R. Cecep Eka Permana dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Evi Maryanti, M.Si. dari Universitas Bengkulu, Ari Mukti Wardoyo Adi, M.A. dari Universitas Jambi, serta Dr. Moh. Mualliful Ilmi, S.Si., M.Si. dari BRIN yang menjadi ketua tim penelitian.
Dari penelusuran tersebut, para peneliti menemukan fragmen gerabah serta sejumlah tinggalan lain yang mengindikasikan adanya aktivitas manusia pada masa lalu.
Temuan itu menjadi petunjuk baru bahwa kawasan Desa Gudang kemungkinan bukan hanya memiliki satu titik situs prasejarah.
Fragmen Gerabah Ungkap Aktivitas Manusia Masa Lalu
Fragmen gerabah yang ditemukan di Aik Sibut menjadi salah satu temuan yang menarik perhatian.
Dalam kajian arkeologi, pecahan gerabah dapat memberikan informasi mengenai kehidupan masyarakat masa lalu. Benda tersebut dapat berkaitan dengan aktivitas sehari-hari seperti mengolah makanan, menyimpan bahan makanan, maupun aktivitas bermukim.
Meski demikian, usia, fungsi, dan hubungan antara temuan gerabah dengan aktivitas manusia masa lalu masih membutuhkan kajian lebih lanjut.
Karena itu, temuan di Aik Sibut belum dapat menjadi kesimpulan akhir mengenai bentuk maupun usia permukiman masa lalu di kawasan tersebut.
Sebaliknya, temuan tersebut justru membuka pertanyaan baru bagi penelitian berikutnya.
Siapa manusia yang pernah beraktivitas di kawasan tersebut? Seberapa tua tinggalan tersebut? Apakah Aik Sibut memiliki hubungan dengan Bukit Batu Kepale? Dan apakah keduanya merupakan bagian dari satu kawasan aktivitas manusia pada masa lampau?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut masih membutuhkan penelitian arkeologi lebih mendalam.
Bangka Diduga Menjadi Penghubung Sumatra Selatan dan Wilayah Sekitarnya
Ketua tim penelitian, Dr. Moh. Mualliful Ilmi, melihat temuan Aik Sibut sebagai petunjuk bahwa potensi arkeologi Desa Gudang jauh lebih luas.
Menurutnya, Bukit Batu Kepale tidak dapat dipandang sebagai satu-satunya lokasi yang menyimpan jejak manusia masa lalu.
Ada kemungkinan kawasan Bukit Batu Kepale, Aik Sibut hingga wilayah lain di sekitarnya merupakan bagian dari sebuah bentang arkeologis yang saling berkaitan.
“Dugaan kami, Bangka ini sebagai penghubung Sumatra Selatan dengan daerah lainnya,” kata Dr. Moh. Mualliful Ilmi.
Letak geografis Bangka menjadi salah satu aspek menarik dalam penelitian tersebut. Posisi pulau ini memungkinkan terjadinya hubungan atau pergerakan manusia dari satu wilayah ke wilayah lainnya sejak masa lampau.
Namun, dugaan mengenai Bangka sebagai jalur penghubung tersebut masih membutuhkan bukti arkeologis yang lebih kuat melalui penelitian lanjutan.
Dari Gambar Cadas hingga Gerabah
Jika sebelumnya Bukit Batu Kepale memberikan petunjuk melalui gambar cadas, kini Aik Sibut memberikan potongan cerita baru melalui fragmen gerabah.
Kedua jenis temuan tersebut memiliki arti penting karena dapat membantu para peneliti memahami bagaimana manusia masa lalu beraktivitas dan berinteraksi dengan lingkungan.
Temuan Aik Sibut juga memperkuat kemungkinan bahwa jejak kehidupan manusia masa lalu di Desa Gudang tidak berdiri sendiri.
Penelitian lebih luas bahkan berpotensi diarahkan ke kawasan lain, termasuk sekitar Bukit Permisan, untuk mengetahui persebaran tinggalan arkeologis di wilayah tersebut.
Dengan demikian, kawasan Desa Gudang berpotensi menjadi satu kesatuan bentang alam arkeologis yang menyimpan cerita kehidupan manusia dari masa lampau.
Potensi Besar Sejarah dan Arkeologi Bangka Selatan
Penemuan di Bukit Batu Kepale dan Aik Sibut memberikan gambaran bahwa masih banyak cerita sejarah yang tersimpan di kawasan Bangka Selatan.
Benda-benda seperti gambar cadas, fragmen gerabah, dan tinggalan lainnya mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi para arkeolog, setiap temuan dapat menjadi bagian dari potongan puzzle untuk mengungkap bagaimana manusia hidup ribuan tahun lalu.
Penelitian lanjutan menjadi penting untuk menentukan usia, fungsi, persebaran, serta hubungan antara berbagai temuan tersebut.
Jika bukti-bukti baru kembali ditemukan, bukan tidak mungkin kawasan Desa Gudang akan semakin dikenal sebagai salah satu wilayah penting dalam kajian prasejarah di Bangka Belitung.
Lebih dari sekadar temuan benda kuno, penelitian ini membuka kembali cerita tentang manusia yang pernah hidup, bergerak, tinggal, dan berinteraksi dengan lingkungan alam Bangka Selatan.
Baca: Erupsi Anak Krakatau Berdampak ke Babel, 10 Penerbangan Bandara Pangkalpinang Dibatalkan
Bukit Batu Kepale dan Aik Sibut pun kini menjadi dua nama penting dalam upaya menguak jejak peradaban manusia masa lalu di Pulau Bangka.
Cerita tersebut masih jauh dari selesai. Apa yang ditemukan para peneliti hari ini bisa jadi baru merupakan bagian kecil dari sejarah panjang yang selama ribuan tahun tersembunyi di balik batu, tanah, hutan, dan bentang alam Bangka Selatan.
















