Jokbangka – Upaya #menghidupkan kembali #kejayaan #lada di #Kabupaten #BangkaBarat, #Provinsi #Kepulauan #BangkaBelitung, mulai memasuki babak baru. #Komoditas yang selama ini menjadi salah satu #identitas #perkebunan daerah tersebut mendapat dukungan melalui kerja sama #Pemerintah Kabupaten Bangka Barat dengan #Badan #Riset dan #Inovasi #Nasional (BRIN).
BRIN disebut telah menyatakan kesiapan memberikan dukungan pendanaan sekitar Rp3,7 miliar untuk kegiatan penelitian sekaligus pembangunan demplot atau lahan percontohan lada di Bangka Barat. Program tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kembali produktivitas lada sekaligus memperkuat posisi komoditas tersebut sebagai unggulan daerah.

Baca: Babel Mulai Manfaatkan Lahan Bekas Tambang Timah untuk Pertanian, Ada Kopi hingga Bawang Merah
BRIN Siapkan Dukungan Rp3,7 Miliar untuk Lada Bangka Barat
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat terus mendorong pengembangan lada dengan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada penanaman, tetapi juga penelitian, penerapan teknologi, peningkatan produksi hingga pengembangan pasar.
Dukungan BRIN sekitar Rp3,7 miliar tersebut diarahkan untuk kegiatan penelitian dan pembangunan demplot lada. Lahan percontohan ini nantinya diharapkan dapat menjadi lokasi penerapan metode budidaya yang lebih baik sekaligus tempat pembelajaran bagi petani.
Program pengembangan tersebut juga berkaitan dengan upaya Pemerintah Kabupaten Bangka Barat mengusulkan daerahnya masuk dalam program Proyek Strategis Nasional (PSN) lada.
Langkah tersebut menjadi penting di tengah tantangan yang dihadapi perkebunan lada Bangka Barat dalam beberapa tahun terakhir.
Desa Tuik Jadi Salah Satu Lokasi yang Dipertimbangkan
Salah satu hal yang menarik perhatian dalam program tersebut adalah pemilihan lokasi demplot.
Mantri Perkebunan (Manbun) Bidang Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bangka Barat, Sarmin, menyebut Desa Tuik, Kecamatan Kelapa, sebagai salah satu lokasi yang dipertimbangkan untuk pengembangan demplot lada.
Desa Tuik dinilai memiliki kondisi yang relatif siap karena kawasan yang akan digunakan sudah berupa perkebunan.
Dengan kondisi tersebut, pembangunan demplot tidak harus diawali dengan pembukaan lahan baru. Program dapat langsung diarahkan pada pengembangan kebun yang sudah tersedia.
“Kalau di Tuik memang sudah kebun di situ. Jadi tinggal melanjutkan,” ujar Sarmin, Selasa, 22 September 2026.
Lahan Sekitar 1,2 Hektare Sudah Dipersiapkan
Kesiapan lahan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan lokasi demplot.
Menurut Sarmin, dari pendataan yang dilakukan, lahan di Desa Tuik yang dipersiapkan untuk program BRIN mencapai sekitar 1,2 hektare.
Artinya, lokasi tersebut dinilai cukup siap untuk mendukung pelaksanaan program apabila nantinya ditetapkan sebagai lokasi pengembangan.
“Dari situ nanti kita bisa melihat. Cuman kemarin didata untuk BRIN ini sekitar 1,2 hektar. Sudah siap lahannya, tinggal programnya,” kata Sarmin.
Keberadaan kebun yang sudah tersedia juga memungkinkan dilakukan perbandingan antara kebun yang dikelola petani dengan kebun yang nantinya dikembangkan melalui program BRIN.
Perbandingan tersebut dapat memberikan gambaran mengenai penerapan teknologi atau metode budidaya yang digunakan serta dampaknya terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman lada.
Baca: Sekolah di Mentok Libatkan Siswa dan Orang Tua Lestarikan Budaya Lokal, Ada Festival Kota Seribu Kue
Desa Tebing Sempat Dipertimbangkan
Sebelum Desa Tuik menjadi salah satu lokasi yang lebih siap, Desa Tebing juga sempat dipertimbangkan sebagai lokasi pengembangan demplot lada.
Namun, berdasarkan hasil survei, terdapat kendala pada kondisi lahan.
Sebagian kawasan yang dianggap memiliki potensi di Desa Tebing masih berupa hutan desa. Kondisi tersebut membuat persiapannya tidak semudah lahan perkebunan yang sudah tersedia seperti di Desa Tuik.
“Kalau di Tebing kemarin, data survei kami terkendala di lahan. Karena lahannya memang lahan hutan masih, kalau di Desa Tebing itu,” jelas Sarmin.
Dengan demikian, kesiapan lahan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan lokasi demplot yang akan mendapatkan dukungan program BRIN.
Bukan Sekadar Menanam Lada
Pengembangan demplot lada ini tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan tanaman lada baru.
Lebih jauh, program tersebut diharapkan menjadi tempat penerapan teknologi dan metode budidaya yang dapat diterapkan oleh petani di wilayah Bangka Barat.
Sebelumnya, Pemkab Bangka Barat menyebut BRIN siap memberikan pendampingan mulai dari penelitian hingga pengembangan teknologi. Program juga diarahkan agar pengembangan lada tidak berhenti pada proses budidaya, tetapi dapat berlanjut menuju peningkatan produksi dan pemasaran.
Dengan pola tersebut, kebun percontohan diharapkan dapat menjadi contoh bagi petani lain yang ingin kembali mengembangkan tanaman lada.
Lada Mentok Ingin Dikembalikan sebagai Komoditas Unggulan
Lada memiliki sejarah panjang dalam perekonomian Bangka Belitung. Salah satu produk yang terkenal adalah Muntok White Pepper atau lada putih Muntok.
Karena itu, pengembangan lada di Bangka Barat tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi perkebunan, tetapi juga upaya mempertahankan identitas komoditas unggulan daerah.
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat sebelumnya menyampaikan keinginan agar pengembangan lada dapat dilakukan secara lebih terarah, termasuk melalui penyediaan lahan percontohan di tingkat desa.
Dalam rencana tersebut, pemerintah desa didorong untuk menyiapkan lahan khusus sehingga keberadaan perkebunan lada dapat dipertahankan di tengah perubahan pilihan komoditas perkebunan masyarakat.
Tantangan Besar: Produksi Lada Bangka Barat Menurun
Dorongan untuk mengembangkan kembali lada juga tidak terlepas dari kondisi produksi yang mengalami penurunan.
Data dalam RPJMD Kabupaten Bangka Barat 2025–2029 menunjukkan produksi lada tercatat 3.456,92 ton pada 2020, kemudian turun menjadi 181,03 ton pada 2024. Luas areal lada juga tercatat turun dari 3.904,24 hektare pada 2020 menjadi 1.066,55 hektare pada 2024.
Penurunan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kembali komoditas lada membutuhkan dukungan yang lebih luas, mulai dari peremajaan tanaman, teknologi budidaya, pengendalian penyakit, ketersediaan lahan, hingga akses pasar.
Karena itu, dukungan penelitian dan teknologi dari BRIN dapat menjadi salah satu bagian dari upaya pemerintah daerah untuk mencari pola pengembangan lada yang lebih produktif.
Demplot Diharapkan Jadi Contoh bagi Petani
Jika Desa Tuik ditetapkan sebagai lokasi pengembangan, keberadaan demplot diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi lahan tersebut.
Kebun percontohan dapat menjadi lokasi pembelajaran bagi petani untuk melihat secara langsung penerapan teknik budidaya lada yang dikembangkan melalui program penelitian.
Petani nantinya dapat memperoleh gambaran mengenai cara pengelolaan tanaman, produktivitas, pengendalian penyakit dan berbagai aspek teknis lainnya.
Model seperti ini juga memungkinkan hasil penelitian tidak berhenti sebagai kajian, tetapi dapat diterapkan secara langsung di lapangan.
Menunggu Tahap Pelaksanaan Program
Saat ini, Desa Tuik menjadi salah satu lokasi yang dinilai memiliki kesiapan lahan untuk mendukung pengembangan demplot lada. Lahan sekitar 1,2 hektare telah didata dan disebut siap digunakan, sementara pelaksanaan program masih menunggu tahapan berikutnya.
Di sisi lain, Desa Tebing masih menjadi salah satu wilayah yang memiliki potensi, meskipun kondisi lahannya membutuhkan penanganan dan kajian lebih lanjut.
Program ini pada akhirnya diharapkan dapat membuka kembali peluang pengembangan lada di Bangka Barat dengan pendekatan yang lebih modern dan berbasis riset.
Baca: Jejak Misterius Koordinator Lapangan Penyelundupan 8 Ton Timah di Beltim, Polisi Terus Memburu F
Harapan Baru bagi Petani Lada Bangka Barat
Dukungan BRIN sekitar Rp3,7 miliar memberikan perhatian baru terhadap komoditas lada di Bangka Barat.
Dengan adanya penelitian, demplot, penerapan teknologi dan pendampingan, pengembangan lada diharapkan dapat dilakukan secara lebih terukur.
Desa Tuik yang memiliki lahan perkebunan siap pakai kini menjadi salah satu lokasi yang dipertimbangkan. Jika program berjalan sesuai rencana, lahan tersebut bukan hanya menjadi kebun percontohan, tetapi juga dapat menjadi tempat belajar dan rujukan bagi petani lada lainnya.
Bagi Bangka Barat, pengembangan ini menjadi bagian dari upaya mempertahankan lada sebagai komoditas unggulan sekaligus membuka peluang untuk meningkatkan produktivitas dan nilai ekonomi perkebunan masyarakat.
Dengan demikian, suntikan dukungan dari BRIN bukan sekadar soal anggaran, tetapi juga menyangkut bagaimana riset dan teknologi dapat diterapkan langsung untuk membantu mengembangkan kembali perkebunan lada di tingkat desa.
















