JokBangka – #Keluhan #terkait #harga #tandan #buah #segar (TBS) #kelapa #sawit #yang #terus #merosot #kini #kembali #mencuat di Bangka. Kali ini, giliran kelompok perempuan tani yang tergabung dalam organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bangka yang menyampaikan langsung aspirasi mereka kepada bupati.
Baca juga: Kasus Korupsi Timah Bangka Selatan Rp4,16 Triliun: PJO Kembalikan Uang Rp100 Juta ke Kejari Basel

Para perempuan tani ini mendatangi pemerintah daerah untuk mengadukan kondisi harga TBS sawit yang dinilai semakin tidak berpihak kepada petani. Penurunan harga yang terjadi membuat pendapatan mereka terus tergerus, bahkan dinilai tidak lagi mampu menutupi biaya operasional kebun.
Harga TBS Sawit Turun, Petani Semakin Terhimpit
Dalam pertemuan tersebut, para perwakilan perempuan tani menyampaikan bahwa harga TBS sawit di tingkat petani mengalami penurunan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga petani yang sebagian besar menggantungkan hidup dari sektor perkebunan sawit.
Baca juga: Warga Puding Besar Laporkan Debt Collector ke Polda Babel, Diduga Rugikan Konsumen dan Langgar Hukum
Harga yang rendah di tingkat petani bukanlah persoalan baru. Fluktuasi harga komoditas sawit memang kerap terjadi, namun kali ini penurunannya dirasakan semakin memberatkan. Bahkan, dalam sejumlah kasus, harga TBS pernah jatuh sangat rendah hingga ratusan rupiah per kilogram di tingkat petani.
Perempuan Tani Ambil Peran, Suarakan Aspirasi
Menariknya, aksi kali ini datang dari kelompok perempuan tani. Mereka tidak hanya berperan sebagai pendamping, tetapi juga sebagai pelaku utama dalam sektor pertanian dan perkebunan.
Keberanian perempuan tani HKTI Bangka ini menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam memperjuangkan hak-hak petani. Mereka berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga TBS sawit.
Harapan kepada Pemerintah Daerah
Melalui audiensi tersebut, para petani berharap adanya solusi nyata dari pemerintah, seperti:
- Pengawasan harga di tingkat pabrik kelapa sawit (PKS)
- Penetapan harga yang lebih adil bagi petani
- Perlindungan terhadap petani kecil dari permainan harga pasar
Permasalahan harga yang tidak stabil selama ini memang menjadi isu klasik dalam sektor pertanian di Indonesia. Sistem pemasaran yang kurang efisien serta fluktuasi harga seringkali membuat posisi petani menjadi lemah.
Baca juga: Bangka Barat Fasilitasi Pesta Adat Belar, Upaya Lestarikan Tradisi Lokal dan Dorong Pariwisata
Masalah Lama yang Belum Tuntas
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan tata niaga dan harga komoditas pertanian, khususnya sawit, masih menjadi pekerjaan rumah besar. Tanpa intervensi yang tepat, petani akan terus berada dalam posisi rentan terhadap gejolak pasar.
Langkah perempuan tani HKTI Bangka ini diharapkan dapat menjadi pemicu perhatian lebih serius dari pemerintah dan pemangku kebijakan agar kesejahteraan petani benar-benar menjadi prioritas.
















