Jokbangka – #Pendapatan #daerah seluruh #pemerintah daerah di #Provinsi #Kepulauan #Bangka #Belitung (#Babel) hingga #September 2026 telah mencapai Rp5,15 triliun. Angka tersebut mencakup #realisasi pendapatan #pemerintah #provinsi serta seluruh #kabupaten dan #kota di Babel.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan, realisasi pendapatan daerah se-Babel hingga 14 September 2026 mencapai sekitar 65,62 persen dari pagu pendapatan daerah tahun anggaran 2026 yang ditetapkan sebesar Rp7,85 triliun.

Baca: Lagi Nonton TV Bersama Ayah, Warga Bangka Barat Diserang Tetangga Pakai Golok hingga Luka Parah
Menariknya, sebagian besar pendapatan daerah tersebut masih ditopang oleh transfer dari pemerintah pusat melalui komponen Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKD/TKDD).
Transfer Pusat Masih Jadi Sumber Utama Pendapatan Daerah Babel
Dari total realisasi pendapatan daerah se-Babel, pendapatan transfer pemerintah pusat menjadi komponen yang paling dominan.
Realisasi transfer tersebut tercatat sekitar Rp3,64 triliun. Sementara total realisasi transfer daerah yang tercatat mencapai sekitar Rp5,54 triliun sesuai data yang dikutip dalam laporan tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan pemerintah daerah di Babel terhadap transfer pemerintah pusat masih cukup besar.
Secara keseluruhan, lebih dari separuh pendapatan daerah yang telah terealisasi hingga September berasal dari komponen transfer. Karena itu, kemampuan pemerintah daerah dalam meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) menjadi salah satu hal penting untuk memperkuat kemandirian fiskal daerah.
PAD Babel Capai Rp1,37 Triliun
Selain transfer pusat, sumber pendapatan daerah lainnya berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Hingga September 2026, realisasi PAD seluruh pemerintah daerah di Bangka Belitung telah mencapai sekitar Rp1,37 triliun, atau sekitar 68 persen dari pagu PAD yang ditetapkan lebih dari Rp2,01 triliun.
Baca: Tegur Pemotor Geber Gas di Pangkalpinang, Pria Malah Dikeroyok Pakai Parang dan Kayu
Komponen PAD terbesar berasal dari pajak daerah.
Dari pagu pajak daerah sekitar Rp1,35 triliun, realisasinya telah mencapai Rp933,14 miliar, atau sekitar 68,96 persen.
Sementara itu, penerimaan dari retribusi daerah hingga 14 September 2026 tercatat sekitar Rp347,96 miliar, atau sekitar 68,70 persen dari pagu tahun 2026 sebesar Rp506,47 miliar.
Dua komponen tersebut menjadi bagian penting dalam menopang PAD pemerintah daerah di Babel.
Ada Komponen PAD yang Sudah Melampaui Target
Menariknya, tidak seluruh komponen PAD masih berada di bawah target.
Realisasi hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan telah mencapai sekitar Rp55,46 miliar, atau 114,82 persen dari pagu yang ditetapkan.
Artinya, realisasi komponen tersebut telah melampaui target anggaran yang ditetapkan untuk tahun 2026.
Sementara itu, komponen lain-lain PAD yang sah baru terealisasi sekitar Rp34,31 miliar, atau sekitar 32,33 persen dari pagu sebesar Rp106,13 miliar.
Perbedaan capaian tersebut menunjukkan bahwa performa masing-masing sumber PAD di setiap daerah maupun jenis penerimaan masih cukup beragam.
Pemprov Babel Catat Realisasi Pendapatan Tertinggi
Jika dilihat berdasarkan pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadi salah satu kontributor dengan realisasi pendapatan terbesar.
Dari pagu pendapatan daerah tahun 2026 sebesar sekitar Rp1,97 triliun, realisasi hingga September telah mencapai sekitar Rp1,41 triliun, atau 71,51 persen.
Transfer dari pemerintah pusat juga menjadi salah satu kontributor utama pendapatan Pemerintah Provinsi Babel.
Realisasi transfer tersebut tercatat sekitar Rp826,64 miliar, atau 72,54 persen dari pagu sekitar Rp1,139 triliun.
Sementara itu, PAD Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung telah mencapai sekitar 74,30 persen dari pagu Rp833,31 miliar, atau sekitar Rp584 miliar.
Pajak Daerah Jadi Andalan PAD Provinsi Babel
Dari sisi PAD Pemerintah Provinsi Babel, pajak daerah masih menjadi sumber penerimaan yang sangat penting.
Hingga September 2026, realisasi pajak daerah tercatat sekitar Rp504,23 miliar, atau 74,40 persen dari pagu sebesar Rp678,63 miliar.
Sementara itu, penerimaan dari retribusi daerah mencapai sekitar Rp59,54 miliar, atau 82,05 persen dari pagu Rp72,56 miliar.
Angka tersebut menunjukkan bahwa penerimaan dari pajak dan retribusi daerah menjadi bagian strategis dalam upaya meningkatkan kapasitas fiskal Pemerintah Provinsi Babel.
Ketergantungan pada Transfer Pusat Masih Menjadi Perhatian
Realisasi pendapatan sebesar Rp5,15 triliun tersebut memperlihatkan bahwa kondisi keuangan daerah Babel masih sangat berkaitan dengan kebijakan dan penyaluran dana dari pemerintah pusat.
Di satu sisi, transfer pusat menjadi instrumen penting untuk memastikan pemerintah daerah tetap memiliki kapasitas membiayai berbagai program pembangunan dan pelayanan publik.
Namun di sisi lain, peningkatan PAD juga diperlukan agar daerah memiliki ruang fiskal yang lebih kuat dan tidak terlalu bergantung pada sumber pendapatan dari luar daerah.
Peningkatan penerimaan pajak daerah, optimalisasi retribusi, pengelolaan aset daerah, serta pengembangan berbagai sumber ekonomi baru dapat menjadi bagian dari strategi memperkuat PAD.
Pendapatan Daerah Babel Masih Berpeluang Bertambah
Dengan realisasi pendapatan sekitar 65,62 persen hingga pertengahan September, masih terdapat ruang bagi pemerintah daerah di Babel untuk meningkatkan capaian hingga akhir tahun anggaran 2026.
Pemerintah daerah di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota tentu masih memiliki waktu untuk mengoptimalkan penerimaan, terutama dari sumber PAD yang potensinya belum maksimal.
Capaian hingga September juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat sektor mana yang sudah berjalan sesuai target dan sektor mana yang masih membutuhkan strategi peningkatan penerimaan.
Pada akhirnya, semakin kuat PAD yang berhasil dihimpun, semakin besar pula peluang pemerintah daerah memiliki ruang fiskal untuk mendukung pembangunan dan pelayanan masyarakat.
Dengan total pendapatan daerah yang telah menembus Rp5,15 triliun, perhatian berikutnya akan tertuju pada kemampuan pemerintah daerah se-Babel mengejar target pendapatan Rp7,85 triliun hingga akhir tahun 2026.
















