Jokbangka – #Pemerintah #Kabupaten #BangkaBarat, #Provinsi #Kepulauan #BangkaBelitung, menunjukkan #komitmennya dalam menjaga dan #melestarikan #tradisi #budaya #masyarakat. Salah satunya melalui dukungan terhadap #Sedekah #Kapuong Desa #Simpangtiga, Kecamatan #Simpangteritip.
Tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun tersebut kembali digelar oleh masyarakat Desa Simpangtiga pada Minggu, 13 September 2026. Sedekah Kapuong menjadi salah satu tradisi masyarakat setempat yang sarat dengan nilai keagamaan, kebersamaan, rasa syukur dan penghormatan terhadap warisan leluhur.
Dukungan pemerintah daerah diberikan agar tradisi tersebut tidak hanya bertahan di tengah perubahan zaman, tetapi juga dapat diwariskan kepada generasi muda.

baca: Residivis di Bangka Selatan Pukul Ayah Kandung Gara-Gara Istri Hamil Dimarahi, Sempat Ambil Parang
Sedekah Kapuong Sudah Digelar Sejak 1976
Bupati Bangka Barat Markus mengatakan, Sedekah Kapuong Desa Simpangtiga merupakan tradisi yang secara rutin dilaksanakan masyarakat setiap tahun.
Menurutnya, tradisi tersebut telah berlangsung sejak sekitar tahun 1976 dan menjadi bentuk ungkapan syukur masyarakat atas hasil panen serta rezeki yang diperoleh selama satu tahun.
“Sedekah Kapuong Desa Simpangtiga ini rutin digelar setiap tahun sejak sekitar 1976, sebagai bentuk syukur warga setelah panen,” ujar Markus di Simpangtiga, Minggu.
Bagi masyarakat setempat, Sedekah Kapuong bukan sekadar kegiatan adat. Tradisi ini menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarwarga sekaligus mempertahankan identitas budaya masyarakat lokal.
Pemkab Bangka Barat Berikan Bantuan Rp20 Juta
Untuk mendukung keberlangsungan tradisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat tidak hanya memberikan perhatian dari sisi pelestarian budaya, tetapi juga membantu penyelenggaraan kegiatan.
Pemkab Bangka Barat telah memasukkan Sedekah Kapuong sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan daerah.
Selain itu, pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata juga memberikan bantuan dana sebesar Rp20 juta untuk mendukung pelaksanaan kegiatan.
Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat mempertahankan sekaligus mengembangkan Sedekah Kapuong sebagai bagian dari keragaman budaya Bangka Barat.
“Selain kita melakukan perlindungan dengan memasukkan tradisi itu dalam Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah, kita juga membantu Rp20 juta, dengan harapan agar tradisi ini dapat dipertahankan dan dikembangkan sebagai bentuk keragaman budaya Bangka Barat,” kata Markus.
Baca: 4 Rumah Bedeng di Parittiga Bangka Barat Ludes Terbakar, Diduga Sengaja Dibakar, Kerugian Rp135 Juta
Bukan Sekadar Tradisi, Sedekah Kapuong Punya Nilai Sosial
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, Muhammad Ferhad Irvan, menjelaskan bahwa istilah Kapuong merupakan pengucapan masyarakat lokal untuk kata “kampung”.
Sedekah Kapuong Desa Simpangtiga merupakan tradisi turun-temurun yang menjadi wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil bumi dan panen yang diberikan selama satu tahun terakhir.
Tradisi ini juga memperlihatkan kuatnya nilai sosial masyarakat Bangka Barat.
Dalam pelaksanaannya, warga tidak hanya mengikuti rangkaian ritual adat, tetapi juga saling bersilaturahmi dengan keluarga, kerabat, sahabat dan masyarakat lainnya.
Suasana kebersamaan bahkan disebut menyerupai momentum Lebaran. Rumah-rumah warga terbuka untuk menerima para tamu yang datang ke kampung.
Berbagai hidangan disiapkan untuk menjamu keluarga maupun masyarakat yang berkunjung.
Hal tersebut membuat Sedekah Kapuong memiliki makna yang lebih luas karena menjadi ruang bertemunya nilai budaya, agama dan kehidupan sosial masyarakat.
Diawali Khataman Al Quran
Rangkaian Sedekah Kapuong Desa Simpangtiga juga memiliki unsur keagamaan yang cukup kuat.
Kegiatan diawali dengan Khataman Al Quran, kemudian dilanjutkan dengan ritual adat yang dipimpin oleh tetua adat setempat.
Perpaduan kegiatan keagamaan dan adat tersebut menjadi salah satu ciri penting dalam pelaksanaan tradisi Sedekah Kapuong.
Masyarakat bersama-sama mengikuti rangkaian acara sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Masuk Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah
Sedekah Kapuong Simpangtiga juga telah mendapatkan tempat dalam kebijakan pelestarian kebudayaan Kabupaten Bangka Barat.
Tradisi tersebut tercatat sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan dari Kecamatan Simpangteritip dan telah dimasukkan dalam Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Kabupaten Bangka Barat Tahun 2025-2029.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memberikan perlindungan terhadap tradisi lokal agar tidak hilang akibat perubahan zaman.
Muhammad Ferhad Irvan mengatakan, langkah tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan kebudayaan daerah untuk kesejahteraan masyarakat.
Upaya Menjaga Budaya Bangka Barat
Pelestarian Sedekah Kapuong merupakan bagian dari upaya lebih luas Pemerintah Kabupaten Bangka Barat dalam menjaga berbagai tradisi masyarakat.
Pada 2026, Pemkab Bangka Barat bahkan menyiapkan puluhan kegiatan adat dan budaya yang tersebar di sejumlah kecamatan. Pemerintah daerah menyebut fasilitasi kegiatan budaya sebagai bentuk keseriusan untuk menjaga budaya lokal sekaligus mendorong potensi pariwisata dan perekonomian masyarakat.
Dengan dukungan tersebut, tradisi seperti Sedekah Kapuong diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan tahunan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari identitas budaya dan potensi wisata berbasis masyarakat.
Harapan untuk Generasi Muda
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup, keberadaan tradisi lokal menghadapi tantangan tersendiri.
Karena itu, pelestarian Sedekah Kapuong menjadi penting agar generasi muda mengenal sejarah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Tradisi tersebut mengajarkan rasa syukur, gotong royong, kebersamaan, penghormatan kepada leluhur serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Dukungan pemerintah dan keterlibatan masyarakat menjadi dua faktor penting agar tradisi tersebut dapat terus hidup.
Sedekah Kapuong Simpangtiga membuktikan bahwa tradisi masyarakat bukan hanya bagian dari masa lalu. Jika dirawat dan dikembangkan dengan tepat, budaya lokal dapat menjadi identitas daerah sekaligus memiliki potensi untuk memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif masyarakat Bangka Barat.
Baca: Pria 49 Tahun di Bangka Barat Hilang 4 Hari Usai Pergi ke Bengkel, Ditemukan Tewas di Perkebunan
Sedekah Kapuong, Warisan Budaya yang Perlu Dijaga
Sedekah Kapuong Desa Simpangtiga menjadi salah satu gambaran kekayaan budaya masyarakat Bangka Barat.
Tradisi yang telah berjalan sejak sekitar 1976 tersebut terus dipertahankan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi dan panen, sekaligus menjadi momentum mempererat silaturahmi masyarakat.
Dengan dukungan Pemkab Bangka Barat melalui bantuan Rp20 juta serta memasukkannya ke dalam Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah 2025-2029, Sedekah Kapuong diharapkan semakin kuat sebagai warisan budaya yang dapat diteruskan kepada generasi mendatang.
















