JokBangka – #Bangka #Barat, #Kepulauan #Bangka #Belitung — #Pemerintah #Kabupaten #Bangka #Barat #terus #berkomitmen #melestarikan #tradisi budaya lokal menyambut bulan suci Ramadhan, salah satunya dengan membantu kegiatan Tradisi 3.000 Culok dan Pawai Obor yang rutin digelar oleh masyarakat Desa Dayabaru, Mentok.
Baca juga: Pelestarian Alam dan Warisan Sejarah

Tradisi 3000 Culok merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Kampung Dayabaru sebagai wujud syukur dan kegembiraan menyongsong datangnya bulan Ramadhan. Biasanya pada malam hari menjelang puasa, warga memasang culok — lentera tradisional yang terbuat dari bahan sederhana seperti botol bekas, tabung bambu atau kaleng dengan sumbu kain yang dinyalakan di depan rumah masing-masing — sepanjang jalan kampung untuk menerangi lingkungan dan menciptakan suasana religius.
Seiring dengan perkembangan zaman, tradisi culok tidak hanya dipasang di rumah-rumah warga, tetapi juga dikembangkan menjadi ribuan lentera yang dipasang di sepanjang jalan Dayabaru, sekaligus menjadi ikon budaya unik Kabupaten Bangka Barat. Selain itu, kegiatan tersebut dilengkapi dengan pawai obor massal yang diikuti oleh warga dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, berjalan bersama membawa obor di malam hari beberapa hari sebelum Ramadhan tiba.
Baca juga: Merayakan Hari Jadi Daerah dengan Puisi: Pesta Seni, Budaya, dan Kebanggaan Lokal
Menurut Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, kegiatan ini bukan hanya sekadar atraksi visual, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan, gotong-royong, dan persatuan antarwarga. Pemerintah daerah bahkan telah mencantumkan kegiatan ini dalam agenda tahunan budaya daerah dan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah sebagai bagian dari objek pemajuan kebudayaan di bidang adat tradisi.
Pelestarian Tradisi 3000 Culok ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam menjaga ragam tradisi lokal lainnya di Bangka Barat, seperti pesta adat ruah, dodol bergema, perang ketupat, dan sejumlah tradisi menyambut Ramadhan yang sarat dengan nilai kearifan lokal. Kegiatan-kegiatan tersebut bukan hanya memperkuat silaturahim antarwarga, tetapi juga membawa potensi bagi perkembangan sektor wisata budaya daerah.
Baca juga: Pulau Belitung: Sejarah, Asal-Usul, Legenda, Masyarakat, dan Budaya
Melalui dukungan dan fasilitasi pemerintah, diharapkan tradisi-tradisi budaya semacam ini akan terus hidup, diwariskan ke generasi muda, serta mampu menjadi daya tarik budaya sekaligus memperkuat identitas sosial masyarakat Bangka Barat di masa depan.
















