Jokbangka – Di tengah #perubahan #zaman dan #semakin kuatnya #arus #modernisasi, #sejumlah #tradisi #leluhur #masyarakat #Tionghoa di #Kepulauan #BangkaBelitung masih terus #dijaga. Salah satunya adalah #Sembahyang #Rebut atau #Chit Nyet Pan, sebuah #tradisi yang bukan sekadar #ritual #keagamaan, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas budaya dan kehidupan sosial masyarakat.
Di Kabupaten Belitung Timur, khususnya Kelapa Kampit, tradisi Sembahyang Rebut masih dilaksanakan secara turun-temurun. Setiap pelaksanaannya, masyarakat berkumpul di lingkungan kelenteng untuk mengikuti doa, persembahan, berbagai rangkaian ritual, hingga prosesi yang menjadi penanda berakhirnya kegiatan.
Pada Kamis malam, 27 Agustus 2026, misalnya, ratusan warga memadati halaman Kelenteng Fuk Tet Che Kelapa Kampit untuk mengikuti rangkaian Sembahyang Rebut Chit Nyet Pan. Tidak hanya masyarakat setempat, warga dari Tanjungpandan, Pontianak, Jakarta dan sejumlah daerah lainnya turut hadir.
Baca: Aksi Perkelahian Remaja Perempuan di Pangkalpinang Viral di Media Sosial, Warganet Soroti Kejadian

Mengenal Chit Nyet Pan
Sembahyang Rebut dikenal sebagai salah satu tradisi masyarakat Tionghoa yang dilaksanakan pada tanggal 15 bulan ketujuh dalam penanggalan Imlek. Tradisi ini berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur serta doa dan persembahan bagi roh-roh yang dipercaya hadir dalam rangkaian bulan ketujuh.
Di sejumlah komunitas Tionghoa, periode tersebut dikenal berkaitan dengan tradisi yang sering disebut sebagai Hungry Ghost Month atau Bulan Hantu. Namun, pemaknaan tradisi dapat berbeda sesuai komunitas dan praktik lokal masing-masing.
Di Bangka Belitung, khususnya Belitung Timur, Sembahyang Rebut telah berkembang menjadi tradisi yang memiliki dimensi keagamaan, budaya dan sosial sekaligus.
Tradisi tersebut menjadi momentum bagi masyarakat untuk berkumpul, mengenang leluhur, memanjatkan doa serta berbagi kepada sesama.
Mengapa Disebut Sembahyang Rebut?
Salah satu bagian yang paling dikenal masyarakat adalah prosesi berebut sesajen atau makanan yang sebelumnya telah disiapkan dan didoakan.
Makanan, buah-buahan dan berbagai persembahan ditempatkan di altar sebagai bagian dari rangkaian sembahyang. Setelah prosesi tertentu selesai, masyarakat kemudian mengikuti tradisi berebut makanan atau persembahan tersebut.
Namun, istilah “rebut” tidak semata-mata harus dimaknai sebagai perebutan dalam pengertian sehari-hari. Di baliknya terdapat nilai budaya mengenai berbagi, keberkahan, kebersamaan dan penghormatan terhadap leluhur.
Portal Pemerintah Belitung Timur menyebut tradisi tersebut sebagai salah satu bentuk mengenang leluhur, mengingat masa hidup serta budi kasih leluhur yang telah memberikan perawatan dan bimbingan.
Kekhidmatan Doa Menjadi Bagian Utama
Meski perayaan Sembahyang Rebut dapat berlangsung meriah dan menarik perhatian banyak orang, inti kegiatan tetap berada pada rangkaian ritual dan doa.
Ketua Yayasan Kelenteng Fuk Tet Che Kelapa Kampit, Kamarudin Muten, menjelaskan bahwa pada hari pelaksanaan Chit Nyet Pan, masyarakat lebih banyak mengikuti berbagai ritual yang menjadi bagian utama kegiatan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kemeriahan yang terlihat dari luar bukanlah satu-satunya wajah Sembahyang Rebut. Di balik keramaian terdapat suasana khidmat ketika masyarakat menjalankan ritual dan menyampaikan doa.
Doa tersebut juga menjadi ungkapan harapan agar kehidupan masyarakat pada tahun berjalan dapat lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca: Teluk Kelabat, Tempat yang Merayu dengan Tenang
Prosesi Thai Se Ja dan Simbolisme Ritual
Salah satu bagian yang paling menarik perhatian dalam pelaksanaan Sembahyang Rebut di Kelapa Kampit adalah keberadaan patung raksasa Thai Se Ja.
Pada puncak ritual, patung tersebut dibakar setelah malam semakin larut. Dalam pelaksanaan 27 Agustus 2026, pembakaran Thai Se Ja berlangsung setelah pukul 23.00 WIB.
Selain patung tersebut, masyarakat juga membakar berbagai replika yang dibuat dari kertas, termasuk bentuk kapal atau kendaraan lainnya.
Prosesi pembakaran menjadi bagian simbolis dari penutupan rangkaian ritual. Karena itu, bagi masyarakat yang mengikuti tradisi ini, prosesi tersebut tidak hanya memiliki daya tarik visual, tetapi juga memiliki makna spiritual dan budaya.
Tradisi yang Menghubungkan Generasi
Salah satu kekuatan utama Sembahyang Rebut adalah kemampuannya menghubungkan generasi tua dan generasi muda.
Orang tua dapat mengenalkan tata cara dan makna ritual kepada anak-anak serta generasi penerus. Sementara generasi muda memiliki kesempatan untuk memahami bahwa budaya leluhur bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi bagian dari identitas masyarakat yang masih relevan hingga sekarang.
Pelestarian semacam ini penting karena tradisi akan sulit bertahan apabila hanya dijalankan oleh satu generasi.
Keterlibatan anak muda, keluarga, tokoh masyarakat, pengurus kelenteng dan komunitas menjadi salah satu kunci agar Chit Nyet Pan tetap hidup.
Menjadi Ruang Silaturahmi Warga Perantauan
Sembahyang Rebut juga memiliki fungsi sosial yang kuat.
Momen pelaksanaan tradisi sering menjadi kesempatan bagi warga keturunan Tionghoa yang berada di perantauan untuk kembali ke daerah asal dan berkumpul bersama keluarga.
Catatan pemberitaan mengenai pelaksanaan di Kelapa Kampit pada 2023 menyebut bahwa ratusan warga Tionghoa mengikuti ritual tersebut, termasuk masyarakat dari luar Pulau Belitung. Tradisi ini juga menjadi ajang silaturahmi karena warga yang merantau biasanya kembali ketika momen tersebut berlangsung.
Dengan demikian, Chit Nyet Pan bukan hanya mempertemukan manusia dengan tradisi leluhur, tetapi juga mempertemukan keluarga dengan keluarga.
Dari Ritual Budaya Menjadi Simbol Kerukunan
Hal menarik lainnya adalah keterlibatan masyarakat yang lebih luas dalam perayaan.
Dalam pelaksanaan di Belitung Timur, Sembahyang Rebut tidak hanya menjadi ruang berkumpul masyarakat Tionghoa. Warga dari berbagai latar belakang juga dapat hadir untuk menyaksikan kemeriahan dan berbagai kegiatan sosial yang menyertainya.
Pemerintah Kabupaten Belitung Timur sebelumnya menekankan bahwa perayaan Sembahyang Rebut dapat menjadi sarana mempererat kebersamaan, solidaritas dan kepedulian sosial.
Nilai toleransi tersebut menjadi salah satu kekuatan budaya masyarakat Bangka Belitung yang memiliki keragaman etnis dan agama.
Sembahyang Rebut dan Kepedulian Sosial
Pelestarian budaya tidak harus berhenti pada ritual. Dalam perkembangannya, Sembahyang Rebut di Kelapa Kampit juga diwarnai berbagai kegiatan sosial.
Pada perayaan 2025, misalnya, kegiatan tersebut diisi dengan pembagian bantuan kepada masyarakat, layanan kesehatan, donor darah dan pasar murah. Pemerintah daerah juga mencatat pembagian ratusan karung beras kepada masyarakat yang membutuhkan.
Hal ini memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi leluhur dapat terus berkembang tanpa kehilangan nilai dasarnya.
Pesan tentang penghormatan, berbagi dan kepedulian terhadap sesama justru dapat diterjemahkan ke dalam bentuk kegiatan sosial yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Potensi Wisata Budaya Bangka Belitung
Sembahyang Rebut juga memiliki potensi besar sebagai bagian dari pengembangan wisata budaya di Bangka Belitung.
Pada 2025, Pemerintah Kabupaten Belitung Timur menyatakan akan menjadikan Sembahyang Rebut sebagai event pariwisata tahunan. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menarik wisatawan sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat, terutama pelaku UMKM.
Pengembangan tersebut tentu perlu dilakukan dengan tetap menempatkan nilai ritual dan penghormatan terhadap tradisi sebagai bagian utama.
Tradisi leluhur tidak seharusnya hanya dipandang sebagai tontonan. Wisatawan yang datang juga perlu memahami bahwa di balik kemeriahan terdapat nilai sejarah, spiritualitas, identitas budaya dan penghormatan terhadap leluhur.
Dengan pendekatan tersebut, Sembahyang Rebut dapat menjadi contoh bagaimana budaya lokal mampu berjalan berdampingan dengan pariwisata modern.
Tantangan Merawat Tradisi di Era Modern
Mempertahankan tradisi tentu bukan perkara mudah.
Perubahan gaya hidup, perkembangan teknologi, mobilitas masyarakat dan semakin beragamnya aktivitas generasi muda menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, pelestarian Chit Nyet Pan membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Keluarga memiliki peran untuk mengenalkan tradisi sejak dini. Kelenteng dan komunitas berperan menjaga tata cara ritual. Pemerintah dapat membantu dari sisi pelindungan dan promosi budaya. Sementara generasi muda dapat memperkenalkannya melalui media digital dengan tetap menghormati nilai dan aturan tradisi.
Dokumentasi berupa foto, video, tulisan dan arsip sejarah juga penting agar generasi mendatang dapat mengetahui bagaimana tradisi tersebut dilaksanakan dari masa ke masa.
Jangan Sampai Tradisi Hanya Menjadi Seremonial
Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mengadakan kegiatan setiap tahun.
Yang lebih penting adalah memastikan generasi berikutnya memahami mengapa tradisi itu dilakukan.
Dalam konteks Sembahyang Rebut, nilai penghormatan terhadap leluhur, kebersamaan, berbagi, kepedulian sosial dan keharmonisan masyarakat menjadi pesan yang tidak kalah penting dari rangkaian ritualnya.
Apabila generasi muda hanya mengenal kemeriahan, tetapi tidak memahami makna di baliknya, tradisi berisiko berubah menjadi sekadar acara seremonial.
Sebaliknya, apabila maknanya terus dijelaskan dan diwariskan, Chit Nyet Pan akan tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat.
Merawat Identitas Budaya Bangka Belitung
Baca: Anak Laut: Makna Sastra Tentang Kehidupan, Perjuangan, Dan Keadilan Masyarakat Kepulauan
Bangka Belitung memiliki kekayaan budaya yang terbentuk dari perjalanan panjang berbagai komunitas. Tradisi masyarakat Tionghoa menjadi salah satu bagian penting dari mozaik kebudayaan tersebut.
Sembahyang Rebut Chit Nyet Pan di Kelapa Kampit memperlihatkan bahwa warisan leluhur dapat terus hidup di tengah perubahan zaman.
Ia bukan hanya tentang sesajen, doa, patung Thai Se Ja atau prosesi berebut makanan. Lebih dari itu, tradisi ini menyimpan cerita tentang hubungan manusia dengan leluhur, keluarga, komunitas dan lingkungan sosialnya.
Ketika masyarakat masih berkumpul untuk menjalankannya, ketika anak-anak muda mulai mengenalnya dan ketika masyarakat luas ikut menghargainya, di situlah sebuah tradisi mendapatkan kesempatan untuk terus hidup.
Merawat Chit Nyet Pan berarti merawat ingatan. Merawat ingatan berarti menjaga identitas. Dan menjaga identitas budaya merupakan bagian penting dari merawat keberagaman Bangka Belitung.
Dengan demikian, Sembahyang Rebut tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi, menumbuhkan kepedulian sosial, menjaga kerukunan dan memperkenalkan kekayaan budaya Bangka Belitung kepada generasi mendatang.
















