Jokbangka – #Penurunan #harga #tandan #buah #segar (#TBS) #kelapa #sawit di #Provinsi #Kepulauan #Bangka Belitung kembali menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Kondisi ini dinilai sangat berdampak terhadap pendapatan petani sawit, terutama petani swadaya yang selama ini menggantungkan ekonomi keluarga dari hasil panen sawit.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dikabarkan akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait anjloknya harga TBS sawit. Hasil evaluasi tersebut nantinya akan dilaporkan langsung kepada Presiden sebagai bentuk upaya mencari solusi agar harga sawit kembali stabil dan menguntungkan petani.
Penurunan harga sawit beberapa waktu terakhir membuat banyak petani mengeluh. Bahkan di sejumlah wilayah, harga TBS sawit di tingkat petani disebut sempat turun drastis hingga berada di kisaran Rp1.750 per kilogram. Kondisi ini membuat sebagian petani memilih menunda panen karena harga dianggap tidak sebanding dengan biaya produksi dan operasional kebun.

Petani Sawit Swadaya Paling Terdampak
Permasalahan harga sawit di Babel tidak hanya soal penurunan harga, tetapi juga kesenjangan harga antara petani plasma dan petani swadaya. Petani plasma yang sudah bermitra dengan pabrik kelapa sawit (PKS) umumnya masih mendapatkan harga sesuai ketetapan pemerintah.
Sementara itu, petani swadaya sering kali menerima harga yang jauh lebih rendah. Kondisi ini memicu keresahan di kalangan petani karena dinilai tidak adil dan semakin memperlemah posisi tawar mereka di lapangan.
Komisi II DPRD Bangka Barat bahkan telah melakukan koordinasi langsung dengan DPKP Babel untuk meminta penjelasan terkait perbedaan harga tersebut. Mereka mendorong adanya penetapan harga yang lebih berpihak kepada petani swadaya agar tidak terjadi kesenjangan terlalu lebar.
DPKP Babel Dorong Kemitraan dengan PKS
Kepala DPKP Babel menjelaskan bahwa salah satu solusi utama untuk meningkatkan harga jual TBS sawit petani adalah melalui pola kemitraan dengan perusahaan PKS. Dengan sistem kemitraan, petani dinilai akan mendapatkan pembinaan, edukasi kualitas panen, hingga jaminan harga yang lebih stabil.
Selain itu, pemerintah juga mendorong petani membentuk kelompok tani maupun koperasi agar memiliki posisi tawar lebih kuat saat menjual hasil panen sawit ke perusahaan.
Langkah tersebut diharapkan mampu membantu petani kecil mendapatkan akses pasar yang lebih baik sekaligus meningkatkan kualitas produksi sawit di Bangka Belitung.
Baca: PT TIMAH Tebar Berkah Idul Adha 2026 di Bangka Barat, Puluhan Sapi Kurban Disalurkan untuk Warga
DPRD Babel Minta Harga Sawit Tidak Terus Anjlok
Turunnya harga sawit juga mendapat sorotan dari DPRD Babel. Sejumlah anggota dewan meminta pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga sawit demi melindungi ekonomi masyarakat.
Pasalnya, biaya produksi perkebunan sawit saat ini terus meningkat, mulai dari harga pupuk, biaya tenaga kerja, hingga transportasi. Jika harga TBS terus turun, petani dikhawatirkan akan mengalami kerugian besar.
Banyak pihak berharap evaluasi yang dilakukan DPKP Babel nantinya dapat menghasilkan kebijakan baru yang benar-benar mampu membantu petani sawit di daerah.
Harga TBS Sawit Babel Sempat Mengalami Kenaikan
Di tengah kekhawatiran petani, harga TBS sawit di Babel sebenarnya sempat mengalami kenaikan pada Maret 2026. Berdasarkan hasil rapat tim penetapan harga TBS sawit, harga untuk tanaman usia 10 hingga 20 tahun ditetapkan mencapai Rp3.514 per kilogram.
Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh membaiknya harga crude palm oil (CPO) dan kernel di pasar domestik maupun global. Namun, fluktuasi harga yang terjadi belakangan membuat kondisi pasar kembali tidak stabil.
Karena itu, evaluasi harga sawit dinilai penting agar kesejahteraan petani tetap terjaga dan sektor perkebunan sawit di Bangka Belitung tetap menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah.
Harapan Petani Sawit di Bangka Belitung
Petani sawit berharap pemerintah pusat maupun daerah dapat segera menghadirkan solusi nyata. Mereka menginginkan harga sawit yang stabil, sistem tata niaga yang adil, serta perlindungan terhadap petani swadaya.
Selain itu, penguatan koperasi, kemitraan dengan PKS, dan pengawasan terhadap pembelian TBS di tingkat lapangan juga dinilai penting untuk mencegah permainan harga yang merugikan petani.
Dengan evaluasi yang akan dilaporkan kepada Presiden, masyarakat berharap persoalan harga sawit di Bangka Belitung dapat segera mendapatkan perhatian serius sehingga ekonomi petani kembali membaik dan sektor sawit tetap menjadi andalan daerah.
















