JokBangka – #Petani di #Kabupaten #Bangka Barat (Babar), #Provinsi #Kepulauan #Bangka #Belitung, #menunjukkan #tren #pergeseran dari #budidaya #lada ke tanaman kelapa sawit meskipun harga lada saat ini relatif tinggi di pasaran. Perubahan pola tanam ini mencerminkan tantangan struktural dalam pertanian lada yang dihadapi petani setempat, termasuk beban biaya produksi, risiko teknis budidaya, hingga prospek keuntungan jangka panjang dibandingkan dengan komoditas lain.

Menurut sumber lokal, meskipun harga lada di tingkat petani dapat mencapai sekitar Rp142.000 per kilogram, realisasi keuntungan tidak serta-merta membuat minat petani meningkat untuk kembali menanam lada hitam. Banyak petani justru memilih beralih ke kelapa sawit yang dinilai memiliki prospek ekonomi lebih stabil dan membutuhkan manajemen usaha yang relatif berbeda.
Faktor Penyebab Beralih dari Lada ke Sawit
- Biaya Produksi dan Risiko Usaha Tanaman Lada:
Budidaya lada memerlukan perhatian intensif, mulai dari penanganan hama dan penyakit hingga waktu tanam-panen yang panjang, sehingga risiko teknis dan biaya dapat menjadi beban bagi petani. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa persepsi petani terhadap harga dan risiko sangat memengaruhi tingkat minat mereka untuk menanam lada. - Prospek Ekonomi Kelapa Sawit:
Kelapa sawit dikenal sebagai komoditas yang memberikan pendapatan lebih stabil melalui hasil panen berkala dan pasar yang lebih luas, sehingga banyak petani mempertimbangkan kembali alokasi lahan mereka untuk sawit dibanding lada. - Tantangan Regenerasi dan Peningkatan Produktivitas:
Sektor lada secara umum menghadapi tantangan dalam regenerasi petani dan produktivitas komoditas yang cenderung stagnan atau menurun, sehingga tidak banyak generasi muda tertarik kembali ke lada sebagai mata pencaharian utama.
Baca juga: Kelangkaan LPG 3 kg di Bangka: Penyebab, Dampak Pada UMKM, dan Upaya Penyaluran Pertamina
Dampak Pergeseran Tanam
Perubahan fokus tanaman dari lada ke kelapa sawit membawa konsekuensi pada struktur produksi pertanian lokal. Penurunan minat menanam lada dapat mengurangi pasokan lada lokal yang selama ini menjadi identitas dan komoditas unggulan di wilayah Bangka, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu daerah penghasil lada berkualitas. Lebih lanjut, pergeseran ini bisa berimplikasi pada pendapatan daerah yang selama ini mendapatkan manfaat ekonomi dari rempah lada, termasuk potensi ekspor komoditas rempah.
Upaya dan Solusi yang Diperlukan
Untuk mempertahankan keberlanjutan budidaya lada dan meningkatkan minat petani, diperlukan pendekatan holistik dalam berbagai aspek:
- Perbaikan sistem dukungan teknis dan finansial, termasuk akses pupuk, bantuan budidaya, dan mekanisasi pertanian.
- Penguatan jaringan pemasaran dan sistem perdagangan lada, guna memastikan harga yang lebih stabil dan adil bagi petani.
- Program regenerasi petani muda, melalui pelatihan dan insentif untuk menciptakan generasi petani lada yang lebih produktif.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, Kementerian Pertanian, serta organisasi petani sangat penting untuk membangun keberlanjutan produksi lada sekaligus memberikan opsi penghidupan alternatif yang seimbang untuk petani di Bangka Barat.
















