JokBangka – #Pemerintahan #Desa di #Bangka Kota #menghadapi #tantangan #besar #setelah #terjadi #pemangkasan #anggaran #Dana #Desa sebesar 72 #persen pada tahun ini, namun sejumlah desa berhasil mempertahankan geliat perekonomian melalui inovasi program peternakan ayam petelur yang berbasis ketahanan pangan dan pemberdayaan warga.
Baca juga: Kelangkaan LPG 3 kg di Bangka: Penyebab, Dampak Pada UMKM, dan Upaya Penyaluran Pertamina

Pemangkasan dana desa tersebut terjadi di tengah tekanan fiskal yang mengharuskan pemerintah daerah melakukan penyesuaian anggaran untuk berbagai sektor prioritas. Dampak pengurangan anggaran ini dirasakan langsung oleh pemerintah desa dalam pelaksanaan program pembangunan desa.
Meski demikian, sebagian desa di wilayah Bangka Kota mampu meminimalkan dampak negatif pemangkasan dana desa melalui strategi pengembangan usaha ayam petelur. Usaha ini tidak hanya berfungsi sebagai sumber pemasukan baru bagi desa, tetapi juga mendukung ketahanan pangan lokal dengan memproduksi telur secara mandiri untuk kebutuhan masyarakat dan pemasaran.
Program ayam petelur yang diterapkan mencakup pengadaan bibit unggul, pembangunan kandang, manajemen pakan, hingga pemasaran produk. Model ini menunjukkan bahwa pengalokasian dana desa untuk sektor produktif seperti peternakan ayam mampu menumbuhkan perekonomian desa sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga desa melalui penciptaan lapangan kerja dan pendapatan.
Selain aspek ekonomi, pengembangan ayam petelur juga berkontribusi pada ketahanan pangan lokal—memperkuat pasokan protein hewani di tengah tantangan ekonomi dan ketersediaan pangan. Program tersebut sejalan dengan arahan regulasi Permendesa yang mendorong minimal 20 % penggunaan dana desa untuk ketahanan pangan.
Baca juga: Resep Lempah Kuning Ayam Khas Bangka: Gurih, Asam Segar, dan Kaya Rempah
Para pemangku kebijakan desa menilai bahwa meskipun alokasi dana desa dipangkas secara signifikan, pemanfaatannya untuk usaha produktif seperti ayam petelur merupakan langkah strategis dalam menumbuhkan ekonomi lokal yang mandiri dan berkelanjutan. Keberhasilan program ini diharapkan dapat menjadi model bagi desa lain di Bangka Belitung dan wilayah Indonesia dalam mengoptimalkan potensi lokal di tengah keterbatasan anggaran.
















