JokBangka – #Pemerintah #Kabupaten #Bangka Barat #kembali #mengadakan dan #memfasilitasi #Festival Perang Ketupat di #Tempilang sebagai bentuk pelestarian budaya lokal menyambut bulan suci Ramadhan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang tradisi ritual adat yang sudah turun-temurun dilaksanakan masyarakat setempat, tetapi juga sarana mempererat silaturahim antarwarga serta simbol tolak bala dan rasa syukur setelah panen. Festival Perang Ketupat yang digelar di Pantai Pasirkuning ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat dan didukung penuh oleh pemerintah daerah untuk memastikan keberlanjutan tradisi ini bagi generasi mendatang.

Puncak kegiatan dalam rangkaian Festival Perang Ketupat yang digelar warga di Pantai Pasirkuning, Tempilang, Minggu (8/2/2026).
“Tradisi Perang Ketupat merupakan tradisi ritual adat turun-temurun masyarakat Tempilang, dilaksanakan di Pantai Pasirkuning sebagai tolak bala sekaligus bentuk syukur menyambut bulan suci Ramadhan,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat Fachriansyah di Mentok, Minggu.
Tradisi Perang Ketupat dilaksanakan sebagai ritual tolak bala dan bersih-bersih kampung dan ungkapan rasa syukur setelah panen menyambut datangnya bulan suci Ramadhan pada bulan Ruwah (Syaāban) memiliki fungsi memperkuat solidaritas dan kebersamaan masyarakat.
Dalam ritual perang ketupat, dua kelompok saling melempar ketupat, merupakan simbol dari upaya warga melawan kejahatan dan menolak perbuatan yang mengakibatkan dosa.
Baca juga: Gunakan Hasil Curian untuk Kebutuhan Sehari-hari
“Selain prosesi dan rangkaian ritual perang ketupat yang sudah berlangsung sejak seminggu lalu dan puncaknya hari ini, pada rangkaian ini warga juga ingin menjalin silaturahim, saling memaafkan dan menguatkan tali persaudaraan dan persahabatan,” ujarnya.
Untuk itu, kata dia, seluruh warga Tempilang pada puncak perayaan Perang Ketupat membuka pintu rumah masing-masing untuk dikunjungi para tamu, warga mengajak seluruh masyarakat ikut bersuka-cita, menguatkan tali silaturahim sambil menikmati berbagai sajian makanan dan minuman yang sudah disiapkan.
Wakil Bupati Bangka Barat Yus Derahman mengatakan tradisi Sedekah Ruwah di Tempilang merupakan tradisi yang perlu terus dijaga sebagai sarana mengeratkan hubungan baik antara pemimpin daerah dan masyarakat.
Pemerintah daerah berkomitmen untuk selalu hadir di tengah warga, tidak hanya dalam kegiatan formal, tetapi juga dalam ruang-ruang kebersamaan sosial.
“Untuk itu kami sebagai warga Tempilang hari ini membuka ruang untuk bersama-sama membangun kedekatan emosional, memperkuat silaturahim, dan saling mendoakan agar semakin maju, warganya sejahtera dan bermartabat,” katanya.
Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan itu juga sebagai sarana berbagi, karena warga dapat merasakan langsung nilai gotong royong dan kepedulian sosial yang telah lama menjadi bagian dari kearifan lokal warga Tempilang.
Dalam pemajuan kebudayaan daerah, tradisi Perang Ketupat Tempilang sudah ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai warisan budaya tak benda pada 2014, sedangkan dua tarian pendukung rangkaian ritual Perang ketupat yaitu Tari Serimbang juga masuk warisan budaya tak benda pada 2014 dan Tari Kedidi pada 2018.
Baca Juga: Polsek Kelapa Tangkap Buronan Pencurian Buah Sawit
Tiga objek budaya dalam satu rangkaian acara ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia ini merupakan bukti arti penting rangkaian tradisi Perang Ketupat bagi warga setempat yang telah berlangsung turun-menurun sejak ratusan tahun lalu.
















