JokBangka – #Pulau #Bangka #merupakan #salah #satu #pulau di #Indonesia #yang #terletak di #sebelah #timur Pulau Sumatra dan termasuk dalam wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pulau ini dikenal luas sebagai daerah penghasil timah terbesar di Indonesia serta memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan jalur perdagangan, kerajaan kuno, dan pengaruh kolonial.
Baca juga: Juru Parkir X-Bar Pangkalpinang Ditusuk Pengunjung Mabuk, Korban Luka di Dada
Asal Nama Pulau Bangka

Nama “Bangka” diyakini berasal dari kata “wangka” atau “bangka” dalam bahasa Sanskerta yang berarti timah. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan bahwa sejak zaman dahulu, Pulau Bangka telah dikenal sebagai daerah yang kaya akan sumber daya timah. Catatan sejarah menyebutkan bahwa bangsa-bangsa asing telah mengenal Bangka sebagai penghasil logam ini sejak awal Masehi.
Sejarah Awal dan Pengaruh Kerajaan
Pada masa awal, Pulau Bangka berada di bawah pengaruh Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Sumatra Selatan. Sebagai kerajaan maritim besar, Sriwijaya memanfaatkan Bangka sebagai wilayah strategis dalam perdagangan laut, terutama perdagangan timah, rempah-rempah, dan hasil hutan.
Setelah melemahnya Sriwijaya, Pulau Bangka kemudian berada di bawah pengaruh Kerajaan Majapahit, sebelum akhirnya menjadi bagian dari Kesultanan Palembang Darussalam. Dalam masa ini, Bangka semakin berkembang sebagai daerah tambang timah dan pusat aktivitas ekonomi.
Legenda Asal Usul Pulau Bangka
Selain catatan sejarah, masyarakat Bangka juga mengenal berbagai legenda rakyat tentang asal usul pulau ini. Salah satu cerita yang populer adalah legenda tentang perjalanan pelaut dan bangsawan dari daratan Sumatra yang menemukan pulau kaya mineral. Penemuan timah yang melimpah dianggap sebagai anugerah alam, sehingga wilayah tersebut kemudian dikenal luas dan dihuni secara permanen.
Baca juga: Polda Bangka Belitung Bongkar Gudang Penimbunan 42 Ton BBM Bersubsidi Ilegal di Bangka
Legenda-legenda ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari budaya lisan masyarakat Bangka hingga saat ini.
Legenda Pulau Bangka
Pada zaman dahulu, wilayah yang kini dikenal sebagai Pulau Bangka masih berupa gugusan laut luas dengan pulau-pulau kecil yang belum bernama. Konon, daerah ini sering disinggahi para pelaut dari berbagai negeri karena letaknya yang strategis di jalur perdagangan antara Sumatra, Jawa, dan Tiongkok.
Kisah Penemuan Pulau Kaya Timah
Menurut legenda rakyat, suatu hari sekelompok pelaut dari daratan Sumatra terdampar di sebuah pulau akibat badai besar. Saat mereka menjelajahi pulau tersebut untuk mencari makanan dan tempat berlindung, mereka menemukan batu-batu berwarna hitam keperakan yang sangat berat dan mengkilap ketika terkena sinar matahari.
Batu-batu itu kemudian dibawa kembali ke daratan dan diketahui sebagai timah, logam yang sangat berharga pada masa itu. Penemuan tersebut menyebar dengan cepat, sehingga banyak orang datang ke pulau itu untuk mencari timah dan menetap secara permanen.
Asal Nama “Bangka”
Dalam legenda tersebut, pulau ini kemudian dinamai “Bangka”, yang diyakini berasal dari kata “wangka” atau “bangka” dalam bahasa kuno yang berarti logam timah. Nama itu dipilih sebagai simbol kekayaan alam yang menjadi sumber kehidupan bagi penduduk pulau tersebut.
Seiring waktu, nama Bangka semakin dikenal oleh para pedagang dari berbagai negeri, termasuk dari Tiongkok, India, dan Arab.
Kedatangan Pendatang dan Kehidupan Masyarakat
Legenda juga menceritakan bahwa banyak pendatang dari luar daerah datang ke Pulau Bangka setelah mendengar kabar tentang kekayaan timahnya. Mereka hidup berdampingan dengan penduduk lokal, saling bertukar budaya, bahasa, dan tradisi.
Dari sinilah terbentuk masyarakat Bangka yang dikenal ramah, terbuka, dan memiliki budaya yang beragam hingga sekarang.
Pesan Moral dalam Legenda
Legenda Pulau Bangka mengajarkan bahwa kekayaan alam adalah anugerah yang harus dijaga dan dimanfaatkan dengan bijak. Keserakahan dapat membawa konflik, sedangkan kerja sama dan kebersamaan akan menciptakan kesejahteraan bagi semua.
🍽️ Masakan Khas Pulau Bangka
- Lempah Kuning
Masakan paling ikonik Bangka. Berupa sup ikan (biasanya ikan tenggiri, kakap, atau patin) dengan kuah kuning dari kunyit, nanas, asam, dan cabai. Rasanya segar, asam, dan pedas. - Lempah Darat
Mirip lempah kuning, tetapi tanpa ikan. Biasanya memakai sayuran seperti labu, terong, atau kacang panjang. - Rusip
Sambal fermentasi dari ikan teri atau ikan kecil yang difermentasi dengan garam dan gula aren. Aromanya kuat, rasanya asin-asam. Biasanya dimakan sebagai sambal pendamping. - Pantiaw
Makanan mirip kwetiau, disajikan dengan kuah ikan yang gurih dan taburan bawang goreng. Bisa kuah atau goreng. - Lakso Bangka
Mi putih dari tepung beras, disiram kuah ikan santan yang kental dan gurih. Sekilas mirip laksa, tapi khas Bangka. - Mie Koba
Mi kuning dengan kuah kaldu ikan tenggiri, ditambah tauge, seledri, dan bawang goreng. Berasal dari daerah Koba, Bangka Tengah. - Otak-otak Bangka
Terbuat dari ikan tenggiri, dibungkus daun, lalu dibakar. Disajikan dengan saus cuka pedas-manis khas Bangka. - Kemplang
Kerupuk ikan khas Bangka, biasanya dipanggang. Cocok dimakan dengan sambal rusip atau cuka. - Getas
Camilan dari ikan dan tepung sagu yang digoreng, mirip pempek tapi kering dan renyah. - Kericu
Keripik dari kulit ikan atau cumi yang gurih dan renyah.
🏝️ Adat & Budaya Pulau Bangka
- Adat Resam Melayu Bangka
Menjadi dasar kehidupan sosial masyarakat Bangka, berlandaskan nilai Islam, sopan santun, musyawarah, dan kekeluargaan. Ungkapan yang terkenal:
“Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.” - Tradisi Nganggung
Tradisi makan bersama dengan membawa dulang (nampan besar) berisi makanan dari rumah masing-masing. Dilakukan saat hari besar Islam, kenduri, pernikahan, atau kematian. Melambangkan kebersamaan dan gotong royong. - Upacara Perkawinan Adat Bangka
Tahapannya meliputi:- Bepinang
- Akad nikah
- Malam Penganten
- Nganggung
Busana pengantin khas berwarna merah keemasan dengan hiasan kepala Paksian (untuk perempuan).
- Tradisi Maras Taun
Upacara adat sebagai ungkapan syukur atas hasil panen dan doa agar tahun berikutnya diberi keselamatan dan rezeki. Biasanya diisi doa, makan bersama, dan pertunjukan seni. - Sedekah Laut
Tradisi masyarakat pesisir sebagai bentuk syukur atas hasil laut dan permohonan keselamatan bagi nelayan. - Tari Tradisional Bangka
- Tari Campak → tarian pergaulan muda-mudi
- Tari Sepen → tarian penyambutan
- Tari Kedidi → terinspirasi dari burung kedidi
- Pakaian Adat Bangka
- Laki-laki: Baju Telok Belango, kain cual, penutup kepala (songkok/tanjak)
- Perempuan: Baju kurung atau baju adat Paksian
- Kain Cual Bangka
Kain tenun khas Bangka dengan motif alam, flora, dan fauna. Dipakai pada acara adat dan resmi. - Bahasa Melayu Bangka
Digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan acara adat, dengan dialek khas yang berbeda dari Melayu daerah lain. - Nilai Sosial Masyarakat
- Mengutamakan musyawarah
- Ramah dan terbuka
- Menjunjung tinggi adat sopan santun dan hormat pada orang tua
Masa Kolonial dan Perkembangan Modern
Pada abad ke-18, Pulau Bangka menarik perhatian bangsa Eropa, terutama Belanda, karena kekayaan timahnya. Setelah Perjanjian London tahun 1814, Bangka resmi berada di bawah kekuasaan Hindia Belanda. Sejak saat itu, pertambangan timah dikelola secara besar-besaran dan membawa banyak perubahan sosial, ekonomi, serta demografi.
Masuknya tenaga kerja dari berbagai daerah seperti Tiongkok, Jawa, dan Melayu menyebabkan Pulau Bangka berkembang menjadi wilayah multietnis dengan kebudayaan yang beragam.
Pulau Bangka di Masa Kini
Kini, Pulau Bangka tidak hanya dikenal sebagai daerah tambang timah, tetapi juga sebagai destinasi wisata yang menawarkan keindahan pantai, kekayaan budaya, serta peninggalan sejarah. Asal usul Pulau Bangka yang panjang dan kompleks menjadikannya salah satu wilayah penting dalam sejarah Nusantara.












