JokBangka – #PT #Timah #Tbk #kembali #menunjukkan #komitmennya #dalam #menjaga #warisan #budaya #Nusantara melalui dukungan nyata terhadap pelestarian tradisi masyarakat adat Mapur di Kabupaten Bangka. Tak hanya dikenal sebagai perusahaan tambang, PT Timah juga aktif mengambil peran penting dalam menjaga eksistensi budaya lokal agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui partisipasi aktif PT Timah dalam Perayaan Ritual Adat Nujuh Jerami yang digelar oleh Lembaga Adat Mapur di Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kabupaten Bangka. Tradisi tahunan ini menjadi salah satu warisan budaya penting masyarakat adat Mapur yang terus dijaga sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus ungkapan rasa syukur atas hasil panen.
Puncak perayaan Ritual Nujuh Jerami berlangsung di Kampung Adat Gebong Memarong pada Rabu, 29 April 2026. Bagi masyarakat adat Mapur, Nujuh Jerami bukan sekadar ritual adat, tetapi simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan turun-temurun. Tradisi ini menjadi momentum sakral untuk mensyukuri hasil panen, baik beras putih maupun beras merah, yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat adat Mapur.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan prosesi ritual adat yang dipimpin langsung oleh tokoh adat Abok Usang Gedoy bersama masyarakat setempat. Suasana sakral kemudian berpadu dengan semarak pertunjukan seni budaya yang menampilkan kekayaan tradisi lokal, mulai dari tarian tradisional yang dibawakan anak-anak PAUD dan pelajar sekolah dasar, pencak silat, hingga Tari Campak yang menjadi penutup acara. Kehadiran pertunjukan budaya ini memperkuat pesan bahwa tradisi bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga diwariskan kepada generasi muda.
Baca juga: Martin dan Hasan Basri Divonis Seumur Hidup, Sidang Pembunuhan Adityawarman Ricuh dan Penuh Emosi
Ketua Lembaga Adat Mapur, Asih Harmoko, menyampaikan bahwa perayaan tahun ini mengangkat tema menjaga keseimbangan alam. Tema tersebut mencerminkan filosofi hidup masyarakat adat Mapur yang menempatkan alam sebagai bagian penting dari kehidupan yang harus dijaga bersama. Menurutnya, PT Timah tidak hanya hadir mendukung kegiatan adat, tetapi juga konsisten berkontribusi dalam penguatan kapasitas masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan.
Dukungan PT Timah terhadap masyarakat adat Mapur tidak berhenti pada pelestarian ritual budaya semata. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), perusahaan juga berkontribusi dalam pengembangan Kampung Adat Gebong Memarong sebagai pusat edukasi budaya dan destinasi wisata berbasis kearifan lokal. Langkah ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat.
Sejak beberapa tahun terakhir, PT Timah bersama Lembaga Adat Mapur terus mendorong pengembangan kawasan adat melalui berbagai program pemberdayaan. Mulai dari pelatihan UMKM, pendampingan pemandu wisata lokal, pelatihan kerajinan, eco print, hingga dukungan literasi budaya seperti fasilitasi penulisan buku Mapur Mendulang Kisah Meraup Berkah. Berbagai langkah ini menjadi bagian dari upaya besar untuk menjaga budaya tetap hidup sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat adat.
Kampung Adat Gebong Memarong kini tidak hanya menjadi simbol pelestarian budaya masyarakat adat Mapur, tetapi juga berkembang sebagai destinasi wisata edukasi budaya di Bangka Belitung. Kawasan ini mulai banyak dikunjungi pelajar, mahasiswa, hingga wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat tradisi dan kehidupan masyarakat adat Mapur. Kehadiran wisata budaya ini sekaligus membuka ruang baru bagi generasi muda untuk belajar tentang pentingnya menjaga identitas lokal.
Peran PT Timah dalam mendukung masyarakat adat Mapur menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya tugas komunitas adat, tetapi juga membutuhkan dukungan lintas sektor, termasuk dunia industri. Melalui kolaborasi berkelanjutan, PT Timah membuktikan bahwa pembangunan tidak selalu identik dengan eksploitasi, melainkan juga dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian nilai, tradisi, dan jati diri masyarakat lokal.
Di tengah derasnya perubahan zaman, langkah PT Timah menjaga warisan budaya masyarakat adat Mapur menjadi contoh nyata bahwa budaya lokal tetap bisa tumbuh, lestari, dan memberi manfaat bagi masa depan. Tradisi Nujuh Jerami bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang menjaga akar budaya agar tetap hidup di masa kini dan terus diwariskan ke generasi mendatang.
Apa Itu Nujuh Jerami
Nujuh Jerami adalah ritual adat tahunan masyarakat adat Mapur (atau Suku Lom) di Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil panen padi dan doa agar musim tanam berikutnya kembali diberi hasil yang baik. Tradisi ini merupakan warisan budaya turun-temurun yang masih dijaga hingga sekarang.
Secara sederhana, Nujuh Jerami bisa dipahami sebagai āsyukuran panenā masyarakat adat Mapur. Ritual ini bukan sekadar seremoni, tetapi memiliki makna spiritual yang kuat karena menjadi bentuk penghormatan kepada Tuhan, leluhur, alam, dan seluruh unsur yang membantu proses bertani.
Arti Nujuh Jerami
Nama Nujuh Jerami berasal dari dua kata:
- Nujuh berarti tujuh
- Jerami merujuk pada padi atau hasil panen
Maknanya berkaitan dengan ritual pascapanen yang dilakukan masyarakat adat sebagai simbol rasa syukur setelah panen padi selesai. Dalam tradisi lisan masyarakat Mapur, Nujuh Jerami juga dimaknai sebagai penanda berakhirnya musim panen dan dimulainya harapan baru untuk musim tanam berikutnya.
Makna Nujuh Jerami
Bagi masyarakat adat Mapur, Nujuh Jerami bukan hanya ritual panen, tetapi punya makna yang lebih dalam, yaitu:
- Ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil panen
- Permohonan berkah agar musim tanam berikutnya lebih baik
- Penghormatan kepada leluhur yang mewariskan tradisi bertani
- Menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan spiritualitas
- Pelestarian identitas budaya masyarakat adat Mapur
Prosesi Ritual Nujuh Jerami
Ritual ini biasanya digelar setiap tahun di Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu, Bangka. Prosesi utamanya meliputi:
- Doa adat yang dipimpin tokoh adat
- Menumbuk padi sebanyak tujuh kali
- Menampi padi hingga menjadi beras
- Memasak hasil panen
- āMemberi makanā simbolis kepada alat-alat pertanian seperti parang, cangkul, kapak, dan lesung sebelum hasil panen dimakan manusia
- Ditutup dengan pertunjukan budaya seperti pencak silat dan tari campak
Salah satu bagian paling unik dari tradisi ini adalah hasil panen tidak langsung dimakan manusia, tetapi terlebih dahulu ādipersembahkanā secara simbolis kepada alat-alat tani dan lingkungan sekitar. Filosofinya, alat dan alam dianggap berjasa dalam keberhasilan panen sehingga harus lebih dulu dihormati.
Warisan Budaya Bangka
Nujuh Jerami bukan sekadar tradisi lokal, tetapi sudah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2015 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ini menegaskan bahwa Nujuh Jerami adalah salah satu kekayaan budaya penting Indonesia yang harus terus dijaga.
Jadi, Nujuh Jerami adalah ritual adat syukuran panen padi masyarakat adat Mapur di Bangka yang sarat makna spiritual, budaya, dan penghormatan terhadap alam serta leluhur.
















