Jokbangka – #Perkuburan #Sentosa di #Kota #Pangkalpinang, #Provinsi #Kepulauan #Bangka Belitung, #dikenal #sebagai #salah #satu #kompleks #pemakaman terbesar dan paling bersejarah di Asia Tenggara. Tempat ini bukan hanya sekadar lokasi pemakaman, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur serta warisan budaya masyarakat Tionghoa di daerah tersebut.

Salah satu fakta menarik dari kawasan ini adalah keberadaan makam tertua yang diyakini telah ada sejak tahun 1915. Makam tersebut berasal dari keluarga besar Boen, yang memiliki peran penting dalam sejarah berdirinya Perkuburan Sentosa.
Sejarah Perkuburan Sentosa Pangkalpinang
Perkuburan Sentosa atau dikenal juga sebagai Tjung Hoa Kung Mu Yen dibangun sekitar tahun 1935 di kawasan Jalan Soekarno Hatta, Pangkalpinang. Kompleks ini berdiri di atas lahan luas dan hingga kini telah menampung ribuan makam dengan berbagai bentuk arsitektur unik.
Meski dibangun pada tahun 1935, keberadaan makam tertua di lokasi ini diperkirakan berasal dari tahun 1915. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut telah digunakan sebagai tempat pemakaman bahkan sebelum resmi dijadikan kompleks pemakaman besar.
Tanah untuk pemakaman ini diketahui merupakan sumbangan dari keluarga Boen, yang juga menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah perkembangan komunitas Tionghoa di Pangkalpinang.
Baca juga: Kasus Pencabulan Anak di Bangka Barat Terungkap, Tersangka AB Diamankan Polisi
Makam Tertua dari Keluarga Boen
Makam tertua yang ada di Perkuburan Sentosa diyakini milik keluarga Boen, salah satunya adalah makam Boen Ngim Foek yang wafat pada tahun 1915.
Keluarga ini tidak hanya memiliki peran sebagai pemilik makam tertua, tetapi juga sebagai penyumbang lahan yang kemudian berkembang menjadi kompleks pemakaman besar seperti sekarang.
Keberadaan makam tersebut menjadi bukti kuat bahwa komunitas Tionghoa telah lama menetap dan berkembang di Pangkalpinang, serta memiliki tradisi kuat dalam menghormati leluhur.
Keunikan Arsitektur dan Nilai Budaya
Perkuburan Sentosa memiliki ciri khas arsitektur makam yang unik dan beragam. Setiap makam biasanya dihiasi dengan ornamen khas Tionghoa dan tulisan aksara Cina yang mencerminkan status sosial serta identitas keluarga yang dimakamkan.
Sebagian besar makam dibangun di area perbukitan, yang dalam budaya Tionghoa melambangkan penghormatan tinggi terhadap leluhur. Selain itu, beberapa makam bahkan dibangun menggunakan material mahal seperti batu granit.
Tradisi Ceng Beng di Perkuburan Sentosa
Setiap tahunnya, Perkuburan Sentosa menjadi pusat kegiatan tradisi Ceng Beng atau Qing Ming, yaitu ritual sembahyang kubur yang dilakukan oleh masyarakat Tionghoa.
Pada momen ini, keluarga akan datang untuk:
- Membersihkan makam
- Berdoa
- Memberikan penghormatan kepada leluhur
Tradisi ini menjadi bukti kuat bahwa nilai kekeluargaan dan penghormatan terhadap nenek moyang masih sangat dijaga hingga saat ini.
Baca juga: Bukti Cinta Budaya Daerah, Seniman Bangka Selatan Yoelchaidir Ciptakan Miniatur Rumah Adat Pelideh
Kesimpulan
Makam tertua di Perkuburan Sentosa Pangkalpinang yang diperkirakan berdiri sejak tahun 1915 menjadi bukti sejarah panjang keberadaan komunitas Tionghoa di wilayah tersebut. Tidak hanya sebagai tempat peristirahatan terakhir, kawasan ini juga menjadi simbol budaya, sejarah, dan penghormatan terhadap leluhur yang terus dilestarikan hingga sekarang.
















