JokBangka – #Provinsi #Kepulauan #Bangka Belitung (#Babel) #kini #tengah #menjadi #sorotan #sebagai #salah #satu #kawasan #dengan #potensi karbon biru (blue carbon) terbesar di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof. Luky Adrianto, saat menjelaskan pentingnya pengelolaan ekosistem pesisir dan laut di Babel untuk manfaat lingkungan dan ekonomi.
Baca juga: Sinergi TNI AL dan Pemerintah Babel Perkuat Upaya Berantas Penyelundupan Timah Demi Kedaulatan Laut

Potensi ini berasal dari ekosistem pesisir yang luas, termasuk hutan mangrove, laut, pulau-pulau kecil, serta berbagai habitat pesisir yang secara alami mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar. Ekosistem seperti mangrove, padang lamun, dan terumbu karang dikenal sebagai penyerap karbon yang sangat efektif, bahkan bisa jauh lebih besar ketimbang hutan daratan biasa.
Menurut Prof. Luky, kekayaan sumber daya alam pesisir di Babel tidak hanya berperan dalam mitigasi perubahan iklim, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi melalui perdagangan kredit karbon. Ia mencontohkan bahwa satu ton karbon yang diserap dapat dilelang dan diperdagangkan, mirip dengan mekanisme pasar karbon di Jakarta yang pernah mencapai nilai USD 358 per ton karbon.
Baca juga: Realisasi PAD Kota Pangkalpinang 2025 Lampaui Target ā Penyumbang Utama Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Permintaan perdagangan karbon global terus meningkat seiring dengan kebutuhan perusahaan dan negara untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Karbon biru menjadi opsi alternatif yang menarik karena selain menyediakan kredit carbon offset, juga mendukung kelestarian ekosistem pesisir yang berperan penting dalam menjaga keanekaragaman hayati laut.
Pemanfaatan potensi ini dapat membawa keuntungan ganda bagi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung:
- Peningkatan pertumbuhan ekonomi lokal melalui pemasukan dari perdagangan kredit karbon.
- Kesempatan penciptaan lapangan kerja hijau (green jobs) dalam sektor konservasi dan pengelolaan sumber daya alam.
- Perlindungan dan pemulihan ekosistem pesisir yang mendukung ketahanan lingkungan jangka panjang.
Prof. Luky berharap agar pemerintah daerah, khususnya Gubernur Kepulauan Babel, dapat merumuskan kebijakan strategis yang mendorong optimalisasi potensi karbon biru ini demi kesejahteraan masyarakat serta keberlanjutan lingkungan. Pandangan tersebut sejalan dengan langkah pemerintah daerah yang tengah melakukan kajian dan persiapan proyek blue carbon untuk mendukung pelestarian mangrove dan perairan laut Babel.
Baca juga: Pengembangan Kawasan Tanjungpendam Belitung: Estetik, Representatif & Dongkrak Pariwisata 2026
Dengan sinergi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan sektor swasta, potensi Babel sebagai penghasil karbon biru terbesar di Indonesia dapat terwujud, sekaligus menjadi model wilayah berkelanjutan yang menggabungkan ekonomi dan konservasi lingkungan.
















